Cerita Seorang Sufi

Alkisah, tersebutlah seorang sufi sedang melakukan pengembaraan yang panjang. Setelah mengarungi padang sahara yang luas dan melelahkan, dia kemudian terjebak malam di sebuah desa. Di desa itu sang sufi tidak memiliki apapun. Hartanya hanyalah buntalan pakaian apa adanya. Pakaian yang ia kenakan juga amat lusuh. Sang sufi kemudian berhenti di sebuah gubuk. Ia kemudian menceritakan maksudnya untuk menginap di sana kepada pemilik gubuk tersebut.

Sang pemilik gubuk ternyata juga amat miskin. Dia tidak memiliki apapun yang bisa diberikan kepada sang sufi. Keramahan dan kebaikan hatinya mendorongnya untuk menolong sang sufi.

“Aku tidak memiliki apapun yang bisa aku suguhkan malam ini. Tentunya tuan sangat lapar.” Kata sang pemilik gubuk.

Sang pemilik gubuk lantas mengajak sang sufi ke rumah orang paling kaya di desa itu. Sang pemilik gubuk kemudian menceritakan keadaan sang sufi. Akhirnya, sang sufi diajak masuk oleh Syakir, si pemilik rumah. Sang pemilik gubuk kemudian meminta izin pulang.

Malam itu, sang sufi mendapatkan jamuan istimewa dari Syakir. Semalaman sang sufi diminta untuk bercerita tentang pengembaraannya. Ceritanya begitu mengasyikkan sehingga waktupun berlalu begitu cepat. Pagi harinya sang sufi minta pamit untuk melanjutkan perjalanannya. Ketika hendak pulang, sufi tersebut mengucapkan terima kasih dan memuji kekayaan yang dimiliki Syakir. Dengan rendah hati, Syakir hanya bisa berujar, “Ini akan berlalu.”

Hari terus berganti. Tujuh tahun berlalu ketika sufi tersebut melintasi desa Syakir. Kerinduannya menyebabkan ia menemui Syakir. Betapa terkejutnya sang sufi karena Syakir yang kaya raya kini hanya seorang buruh yang tinggal disebuah gubuk yang sempit milik majikannya, Haddad. Malam itu, sufi tersebut menginap di gubuk Syakir. Syakir menceritakan apa yang menimpanya. Semua ternak dan ladangnya hancur karena kekeringan yang panjang. Semua ternaknya habis dan tanahnya dijual untuk bisa menyambung hidup keluarganya. Sang sufi dengan penuh keharuan mendengarkan setiap potongan cerita hingga waktupun berlalu.

Ketika berpisah, sang sufi dengan berbekal iba, berucap, “Saya ikut berduka atas segala kemalangan yang menimpamu.” Namun, Syakir dengan senyum ramah dan tulus justru membalas dengan segala optimisme, “tidak ada masalah, ini akan berlalu.”

Tahun berganti. Sang sufi bertekad melakukan ibadah haji. Selepas menunaikan ibadah haji, pulangnya ia singgah dulu di desa sahabatnya itu. Sufi itu kemudian berjumpa dengan Syakir dan dibuat terkejut karena Syakir kini menjadi orang yang paling kaya di desanya. Malam itu, Syakir bercerita bahwa majikannya, Haddad, tidak memiliki seorang ahli waris. Oleh karena kebaikan hati Haddad, ia mewariskan semua kekayaannya kepada dirinya. Malam itu berlalu pula dengan cepat.

Ketika pamit, sang sufi berkata, ” Saya ikut berbahagia melihat engkau bahagia.” Sembari melepas sang sufi, Syakir bersahut, ” Ini pun akan berlalu.” Sang sufi menjadi bingung dibuatnya.

Hari-hari berlalu. Sudah lama sang sufi tidak mengunjungi sahabatnya. Maka, dalam pengembaraannya, ia menyempatkan untuk mengunjungi rumah sahabatnya. Keanehan terjadi, sang sufi tidak dapat berjumpa dengan sahabatnya, Syakir. Ia telah lama meninggal. Sang sufi kemudian mengunjungi makamnya. Betapa terkejutnya sang sufi karena dia menemukan kata-kata ‘Ini pun akan berlalu’ terpahat di atas nisan Syakir. Sang sufi semakin bertambah bingung. Jika kaya dan miskin dapat berlalu, tetapi bagaimanakah dengan kematian yang merupakan takdir yang tidak dapat ditolak?

Sang sufi kemudian pulang. Hari demi hari terus dijalaninya dengan pengembaraan. Tiba-tiba sang sufi teringat kata-kata sahabatnya, “Ini pun akan berlalu.” Dengan rasa penasaran yang sangat, ia kemudian mengunjungi makan Syakir. Betapa terkejutnya sang sufi karena kuburan dan batu nisan temannya hilang. Sang sufi kemudian mencari tahu. Dari warga desa diketahui kalau desa Syakir tersebut telah dilanda banjir besar. Segalanya porak-poranda, termasuk kuburan dan nisannya hilang. Sang sufi benar-benar dibuatnya bingung. Namun, sang sufi kemudian mengurai semua misteri yang tersimpan dibalik kata-kata Syakir tersebut.

Pada suatu hari, dia mendapat surat dari seorang pembantu raja. Dalam suratnya diceritakan bahwa sang raja terus dirundung duka. Berbagai hiburan dan hadiah tetap tidak dapat mengubahnya. Setelah membaca surat itu, sang sufi termangu. Pikirannya menerawang ke sahabatnya yang dikaguminya, Syakir. Sang guru kemudian masuk ke dalam gubuknya lalu menuliskan sesuatu di atas kertas untuk sang pembantu raja.

Ketika hari ulang tahun sang raja tiba, berbagai hadiah dan hiburan dipersembahkan, namun semuanya tetap tidak ada yang bisa membuat sang raja tersenyum sedikitpun. Tetapi, ketika raja menerima hadiah sebuah cincin yang terbuat dari emas dan bertuliskan kata-kata ‘Inipun akan berlalu,’ tiba-tiba senyum raja yang sudah lama hilang muncul kembali. Sang raja tampak begitu bahagia menatapi cincin tersebut.

“Ini pun akan berlalu. Tidak perlu ada kesedihan,” gumam sang raja dalam hati sembari memasukkan jari manisnya ke lubang cincin.

Kayak lagu yang berjudul “Tak Ada yang Abadi”, lupa siapa yang nyanyiin. Sedikit lebay sih ceritanya. Tapi, dari kisah ini, inti yang baiknya kita petik adalah apapun kesenangan atau kesedihan yang kita rasakan di dunia ini, semuanya pasti akan berlalu. Semua silih berganti, kayak roda yang berputar, adakalanya kita berada di bagian atas juga adakalanya kita berada di bagian bawah.

Jadi, buat apa kita menunjukkan keangkuhan dan kesombongan kita di dunia ini, kalo yang namanya kekayaan, kecantikan atau kegantengan, kemakmuran, dll semuanya itu cuma kita rasakan bagaikan desiran angin yang berlalu, cuma sebentar. Lagipula, sifat angkuh dan sombong itu cuma milik Allah, masa kita mau sok2an menandingi Dia? Padahal, kita, manusia itu kayak seonggok sampah yang berjalan.

Selain itu, kalo kita diberi kenikmatan, hendaknya disyukuri. Ingat kan dengan kata “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” ?

Itu artinya, kalo semua yang berasal dari Nya akan kembali lagi kepada Nya. That’s point.

Mudah-mudahan bisa jadi pengingat bagi diri sendiri bahwa segala kesedihan atau kenikmatan yang diberikanNya saat ini, harus disyukuri, jangan malah jadi melupakanNya. hoho.

Semoga juga bisa bermanfaat buat teman-teman yang membacanya ^^

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Yandi says:

    Cerita yang bagus. Sangat suka dengan moral cerita di sini.
    Kesimpulan: berpeganglah pada yang abadi, dunia hanyalah sementara.

    Terima kasih telah membagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s