Franz Wilhelm Junghuhn (1809 – 1864)

Selama 19 tahun, Franz Wilhem Junghuhn yang dianggap sebagai “Humbolt pulau Jawa” mengabdikan dirinya pada alam tanah Jawa yang dianggapnya sebagai rumah kedua dan telah menghasilkan banyak penemuan-penemuan penting, salah satunya ditulis dan digambar dalam bukunya “ Lukisan Alam Jawa” yang memiliki kontribusi cukup besar bagi kenyataan-kenyataan ilmiah mengenai pulau Jawa saat ini. Selain itu, penjelasannya yang rinci dalam bukunya “Tanah Batak di Sumatera” yang diterbitkan dalam dua bahasa Jerman dan Belanda, menjadi pelopor bagi perubahan besar kebudayaan masyarakat Batak saat ini. Peringatan 200 tahun Junghuhn di Bandung diprakarsai oleh Goethe Institute Bandung yang bekerjasama dengan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dalam Simposium (19-20/10/09) dan Pameran (19-31/10/09) “200 Tahun Peneliti Pulau Jawa, Franz Wilhem Junghuhn (1809 – 1864)”.

Simposium yang bertempat di ruang Auditorium Campus Center ITB diselenggarakan selama dua hari dan dihadiri oleh pembicara yaitu pada hari Senin (19/10/09, 08.30 – 16.30) yang terdiri dari Heinz Schütte (Jerman) “Franz Junghuhn – Gambaran Seorang Peneliti Alam Muda”, Renate Sternagel (Jerman) “Penelitian Franz Junghuhn di Pulau Jawa 1836 – 1848”, Dr. Taufikurrahman (ITB) “Jasa Junghuhn dalam Produksi Kina di Jawa, dan Gerhard Aust (Jerman) “ Kartografi Junghuhn tentang Jawa dan Sumatra” dan pada hari Selasa (20/10/09, 08.30 – 13.30) yang terdiri dari Johann Angerler (Belanda) “Filosofi Alam Junghuhn” dan Thilo Habel (Jerman) “Begitulah Alam Satu dari Semesta – Litografi dan Gambar Cetak Kayu Ilmiah Junghuhn”. Sedangkan pameran yang bertempat di ruang pameran lantai 2 Campus Center ITB diselenggarakan selama 13 hari dari Senin (19/10/09) s/d Sabtu (31/10/09) yang dibuka dari pukul 09.00 s/d 16.00 WIB.

Lahir pada 26 Oktober 1809 di kota Mansfeld, Jerman, dari seorang ayah yang berwatak keras dan seorang ibu yang lemah lembut, menjadikan Junghuhn seorang yang juga berwatak keras, berkepribadian bebas dan tidak suka terikat, dan bersifat penyendiri. Kecintaannya pada pengetahuan alam, menyebabkan kuliah kedokterannya berjalan kurang baik karena Junghuhn lebih fokus untuk merancang buku tentang mikologi (ilmu jamur-red) dan botani (ilmu tumbuhan-red). Setelah lulus ujian kedokteran dan berkiprah sebagai seorang dokter militer kelas III pada pasukan kolonial Belanda, mengantarkan Junghuhn tiba di Batavia (sekarang Jakarta-red) pada 13 Oktober 1835. Namun, ketertarikannya pada bidang botani terutama mikologi mendorongnya untuk melakukan ekspedisi di beberapa tempat di Yogyakarta (seperti: pantai selatan, Rongkop Imogiri, Prambanan, Salatiga, Magelang, Borobudur) dan Jawa Barat (seperti: Pelabuhan Ratu, Priangan, Cirebon).

Setelah lulus ujian dokter militer kelas II di Batavia, Junghuhn tinggal di Tanah Priangan (Cianjur, Pangalengan, Lembang, Garut) dan menyusun manuskipnya tentang Tanah Batak yang dapat diterbitkan dalam bahasa Belanda (1844) dan bahasa Jerman (1847). Artikelnya yang berjudul “Beiträge zur Geschichte der javanischen Vulkane (Sumbangan untuk Sejarah Gunung-Gunung Vulkanik di Jawa-red)”, diterbitkan oleh van Hoevell yang dimuat dalam Tijdschrift voor Neerlands Indie (TNI), namun menjadi pemicu konfrontasi dengan ahli holtikultural Taman Botani Bogor, Johan Elias Teysmann, yang Junghuhn sudah menganggapnya sebagai “Professor of Vegetables (Profesor Sayuran-red). Penelitiannya di Jawa Tengah yang dihabiskannya selama setahun penuh, menerbitkan buku pertamanya yaitu “Topographische und naturwissenschaftliche Reisen (Perjalanan Topografi dan Ilmu Alam-red)”.

Kesehatan Junghuhn yang menurun, menyebabkan ia harus kembali ke Eropa pada tahun 1848. Selama tujuh tahun bermukim di Belanda, Junghuhn melakukan analisis gambar-gambarnya tentang Jawa dan menerbitkan edisi pertama maha karyanya dalam bahasa Jerman (1852) dengan judul “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart (Jawa, Sosoknya, Ragam Tanaman dan Komposisi Internal-red)” dan menyusul edisi kedua yang diperbanyak dan diperbaharui (1854). Disamping karya berupa manuskrip Buku – Jawa dan Gambar Peta Jawa Besar, karya terbesar Junghun adalah publikasinya mengenai pandangan hidup dan gagasan ritual tentang gereja dan agama. Dalam nukilan yang berjudul “Licht – en schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java” (1854) yang diterbitkan secara anonim berisi tentang pengakuan Junghuhn sebagai seorang pantheis sejati. Junghuhn menulis bahwa hanya alam semata baginya yang merupakan “Mata air segala keberanian” dan satu-satunya “Wahyu Illahi”. Pengantar ajaran Kristen di Jawa ia tolak yang membuat murka imam Belanda sehingga Junghuhn harus mencari sendiri penerbit baru untuk nukilan berikutnya yaitu “Sosok dan Bayangan”. Karya lainnya yaitu “Kaart van het eiland Java” (1855), terdiri atas 4 lembar dan memuat tentang peta topografis dan peta geologis pulau Jawa.

Bersama dengan istrinya, Johanna Louisa Frederica Koch – putri seorang perwira Belanda –, Junghuhn berlayar ke Jawa dan meninggalkan Eropa untuk selamanya pada 30 Agustus 1855.  Di Jawa, Junghuhn mulai mencurahkan waktunya untuk untuk tanaman kina karena J. Karl Hasskarl, kepala budidaya kina di Jawa menyerahkan jabatannya dan kembali ke Belanda. Namun, ia juga melanjutkan kegiatan pengkoleksian dan penelitiannya di bidang botani, geologi, dan klimatologi. Setelah pindah ke Lembang, Junghuhn mulai mendalami ilmu fotografi secara serius. Pada 24 April 1864, Junghuhn meninggal jam tiga dini hari di usianya yang ke-58 tahun. Sebelum meninggal, ia meminta kepada sahabat terbaik yang juga dokter pribadinya, Groneman, untuk membukakan jendela agar dia bisa menatap Tangkuban Perahu dan menghirup udara pegunungan yang bersih.

Kepribadian Junghuhn yang tertutup awalnya sempat membuat ia menjaga jarak dengan penduduk setempat. Namun, Junghuhn merupakan sosok yang sangat mencintai alam. Ia menganggap bahwa alam diibaratkan sebagai seorang wanita yang mempesona dan dia menghargai orang yang menjaga alam tersebut. Hal tersebut dapat kita temukan pada artikel Junghuhn (1844) yang berisi mengenai perbandingan tindak tanduk orang Jawa dengan orang Eropa. Dalam artikel tersebut Junghuhn melihat bahwa kepribadian orang Jawa yang diam dan sangat patuh menjalankan ajaran yang diyakininya bertentangan dengan sifat orang Eropa yang keras dan tidak bisa diam sehingga Junghuhn akhirnya menaruh hormat pada orang Jawa. Selain itu, Junghuhn juga memakai 2 metode penamaan tumbuhan dan metode klasifikasi yang spesifik yang telah dipakai oleh orang jawa jauh sebelumnya.

Penelitian Junghuhn di pulau Jawa, ia fokuskan mengenai geografi gunung berapi dan pengamatannya tentang pengrusakan pulau Jawa oleh kolonial Belanda. Awalnya, ia ingin menerapkan ilmu mikologinya yang dipelajarinya di Sidney, tetapi tidak terlaksana karena Junghuhn terlalu terpesona pada kekayaan tumbuhan segala jenis yang hidup di tanah Jawa. Junghuhn sempat mendaki 43 gunung berapi di pulau Jawa dan menjadi pendaki Eropa pertama. Pengamatan Junghuhn adalah penting karena menawarkan hipotesis baru bahwa gunung berapi terbentuk dengan sendirinya dalam waktu yang lama dengan penumpukan batuan dan lava. Adanya gunung berapi dengan lingkaran kawah yang besar, terbentuk karena adanya kekuatan dari dalam gunung berapi yang sangat besar. Hal ini terjadi di Sumatera, dimana Danau Toba merupakan hasil dari letusan gunung berapi. Namun, berdasarkan fakta-fakta yang Junghuhn dapatkan di lapangan, ia menyimpulkan bahwa kekuatan gunung berapi di masa lalu lebih besar daripada masa sekarang.

Junghuhn merupakan ilmuwan universal karena banyak berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan seperti botani, meteorologi, geologi, tanpa mendalami ilmunya secara mendalam. Junghuhn tak pernah berhenti menulis semua pengamatan yang ia amati demi tujuan untuk merangkum secara menyeluruh wilayah yang ditelitinya. Pembuatan peta pulau jawa sebenarnya telah dipimpin oleh Raffles karena VOC mulai mengalami kehancuran (1798 – 1812). Kartu yang dihasilkan sangat dekoratif, tetapi tidak akurat. Hal ini, mendorong Junghuhn untuk melakukan pembuatan ulang yang bisa diselesaikan dalam ukuran 79 x 19 m (1885). Prestasi kartografi ini merupakan yang terbesar karena hanya dibuat oleh satu orang. Jika dibandingkan dengan peta yang dibuat Raffles, karya Junghuhn walaupun tidak dekoratif, tetapi lebih tepat dan akurat.

Kompas, azimut, dan teodolit merupakan salah satu alat yang ia gunakan dalam membuat pemetaan. Junghun pernah berdiri di hampir semua puncak gunung di pulau Jawa. Sebagai dasar pembuatan peta, Junghuhn menggunakan dua titik utama yang telah ditentukan. Untuk mendapatkan ketinggian yang pasti dan akurat perlu dilakukan pengukuran pada dua tempat secara bersamaan, yaitu di bagian dasar gunung dan puncak gunung. Ketinggian suatu tempat diukur dengan barometris. Dikarenakan Junghun tidak mempunyai teman yang dapat membantunya maka ia harus berada pada dua tempat tersebut pada hari yang sama agar dapat melakukan penelitian.

Dari hasil pengamatannya, ia berpendapat bahwa jika pulau Jawa dibenamkan 1000 kaki maka dataran pesisir akan hilang. Pembenaman 3000 kaki, Bandung akan hilang. Pembenaman ini dilakukan hingga didapatkan hanya beberapa titik saja yang tertinggal. titik ini menjadi perbandingan tinggi antar gunung di Jawa. Hal ini merupakan cara yang paling brilian pada saat itu. Bagian penting dari karyanya adalah apa yang disebut sebagai “Album Jawa”. Di dalamnya Junghuhn memaparkan bahwa akan terjadi erosi besar-besaran pada Tanah Jawa yang akhirnya kurang lebih 1000 tahun dari prediksinya, kepulauan Jawa menjadi terbenam seutuhnya.

Selain itu, Junghuhn diperintahkan oleh Komisaris Pemerintah Kolonial Belanda, Pieter Markus, untuk meneliti Tanah Batak, tepatnya di sebelah tanah Toba (1840). Tidak ada peneliti sebelum Junghuhn di Pulau Batak. Penduduk hanya mengenal misionaris. Awalnya, para misionaris datang ke pulau tersebut pada tahun 1824, namun hanya dapat kembali tanpa membawa hasil. 10 tahun kemudian, 2 orang misionaris datang ke utara Sibolga dan dibunuh oleh penduduk setempat. Oleh karena itu tidak ada informasi mengenai tanah Batak. Peta terbaik Sumatera saat itu adalah milik William MarsDen yang dikerjakan selama 8 tahun.

Pada awal kehadiran Junghuhn, Tanah Batak masih ditutupi oleh pepohonan dan hutan belantara, sangat berbeda dengan Pulau Jawa. Junghuhn memerlukan jejaring pengukur Trigonometri untuk pengukuran. Jejaring ini digunakan untuk mengukur kota-kota di Jerman dan Inggris. Dengan peralatan sederhana seperti Sextant, ia memulai pengukuran secara triangulasi di kedua titik yang merupakan bukit di Teluk Tapanuli. Ini merupakan pengukuran Triangulasi pertama di Indonesia. Junghuhn melakukan 150 pengukuran triangulasi pada penelitian ini. Junghuhn dibantu oleh penduduk setempat dalam melakukan pengukuran. Selain hutan belantara, Junghuhn juga mendapatkan kesulitan seperti ancaman penduduk, serta penyakit. Penduduk mengira bahwa pengukuran dilakukan untuk pembangunan Benteng, sehingga Junghuhn harus melakukan pengukuran secara sembunyi-sembunyi. Pengukuran dilakukan selain di titik Tapanuli, juga di titik tertinggi di wilayah selatan yaitu puncak Gunung Lubu Radja. Pengukuran di Lubu Radja sangat membantu, namun untuk pengukuran di utara terjadi distorsi. Banyak profil dan sketsa pemandangan yang melengkapi peta buatan Junghuhn ini. Tanah Batak di Sumatera dicetak dalam 6 peta. Dari 5 peta, dibuat peta umum Sumatera Tengah dengan penggambaran yang akurat. Perbandingan dengan Peta Marsden, ada penggambaran wilayah yang lebih sempit pada gambarnya. Rangkaian gunung digambar sedemikian rupa seperti melihat dari kapal, rangkaian di belakangnya seperti fantasi. Yang penting untuk peta selanjutnya adalah deskripsi daerah Mandailing. Peta ini melaporkan peta Danau Toba yang paling awal.

Karya Junghuhn yang paling menginterpretasikan kebudayaan masyarakat Batak secara detail ditulis dalam bukunya yaitu “Folke Kunde (Ilmu Bangsa-Bangsa)” (1847). Orang Batak Toba digambarkan sebagai seorang yang bebas dan tidak mau tunduk kepada raja kampong. Mereka telah memakai sistem parlemen dimana semua keputusan harus dirundingkan terlebih dahulu.Suara semua laki-laki dewasa diperhitungkan, juga suara perempuan yang berpendidikan. sistem aliansi perkawinan batak menjadi sebuah kekuatan untuk mempertahankan kedamaian karena orang Batak harus kawin di luar marganya sendiri, dan sangat pantang untuk merugikan mertua dan keluarganya. Junghuhn menganggap bahwa sistem itu merupakan sistem yang paling bagus di indonesia, melebihi sistem irigasi di pulau jawa. Oleh karena itu, Junghuhn menganggap orang Batak sebagai bangsa yang kebudayaannya sedang mengalami perkembangan walaupun belum setara dengan kebudayaan Eropa, walaupun juga tidak dianggap sebagai kebudayaan yang rendah karena sudah memiliki sistem yang teratur, hukum adat sendiri, dan perundang-undangan yang sangat ditaati oleh penduduk setempat. Selain itu, mereka memiliki kepribadian yang lembut. Adanya penerbitan buku ini dalam bahasa Belanda dan Jerman, membawa dampak yang sangat besar. Salah satunya yaitu seorang peneliti Belanda, van der Toek, mengirimkan seorang ahli bahasa untuk meneliti bahasa batak. Kemudian, seorang keturunan Jerman mengirimkan beberapa misionaris ke Tanah Batak. Awalnya mereka menganggap bahwa ras Eropa adalah jauh lebih tinggi dibandingkan ras yang berkulit lebih gelap, namun setelah membaca laporan Junghuhn, mereka menjadi ragu mengenai ras orang batak. Akhirnya mereka memakai pendapat Junghuhn dengan adanya ras menengah. Hal ini menyebabkan para misionaris yang dikirim ke Tanah Batak tidak lagi menganggap orang Batak sebagai inferior sehingga pendekatan yang dilakukan lebih halus. Misi tersebut akhirnya berhasil.

Selain pembahasan mengenai riwayat hidup Junghuhn dan perjalanannya menyusuri Tanah Jawa dan Tanah Batak, juga dibahas kontribusi Junghuhn dalam pengenalan tanaman Kina di Jawa. Kina yang berasal dari Peru dibawa ke Indonesia diteliti mengandung senyawa quinine yang dapat digunakan sebagai obat malaria yang menjadi penyakit pandemic paling berbahaya yang terjadi di hampir semua negara-negara tropis termasuk Indonesia pada saat itu. Chinchona cahyana (1851) dikembangkan dari biji yang dikoleksi oleh Weddel (Amerika). Junghuhn (1859) menjadi orang pertama yang dapat membuat metode kultivasi dan metode investigasi sistematik. Beberapa spesies kina yang dapat tumbuh di antaranya yaitu C. cahyana, C. pahudianaHoward, dan C. lancitolia.

Simposium dan pameran ini membuat para peserta bisa lebih mengenal siapa sosok Junghuhn dan kontribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Diharapkan kedepannya, karya-karya Junghuhn dapat terus terjaga, tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu Indonesia sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda, namun dapat dijadikan rujukan sebagai pengingat dini atas bencana lingkungan yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Informasi mengenai Junghuhn ini sangat penting untuk disebarluaskan. Oleh karena itu, dari pihak Jerman membutuhkan bantuan dari orang Indonesia sendiri. Dokumentasi dari karya-karya Junghuhn dapat diperoleh di Foto Buku di Belanda. Yang masih tidak berubah adalah belum adanya terjemahan dalam bahasa Indonesia sehingga hanya diketahui oleh orang Eropa saja sehingga masih bisa dikatakan sebagai proyek kolonial. Pada saat ini, sudah tidak ada lagi proyek kolonial dan diharapkan kedepannya semua orang terutama masyarakat Indonesia dapat mengetahui informasi ini.

Selain itu, tantangan yang perlu dihadapi mengenai tanaman kina adalah studi lebih lanjut terutama mengembangkan formula quinine yang baru. Hal ini disebabkan kina sebagai obat malaria masih menjadi mimik dalam struktur molekul karena virus malaria selalu membangun mekanisme pertahanan dengan mutasi. Dalam hal ini, SITH menjadi salah satu faktor yang dapat berperan dalam melakukan penelitian mengenai kina tersebut.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Great idea, but will this work over the long run?

  2. menyongsong datangnya bulan Romadhon, mari kita mempersiapkan diri untuk hati yang lebih bersih dan rasa saling menghormati. mohon maaf kalau komentar ini sekedar menyapa, tidak sesuai dengan isi postingan 11:46

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s