Deja Vu.

Saya tipe orang yang lebih mengandalkan kekuatan feeling (perasaan) dalam memutuskan sesuatu. Entah kenapa, namun saya merasa lebih yakin akan keputusan tersebut. Mungkin itulah yang menyebabkan saya percaya dengan peristiwa deja vu.

Seperti yang diketahui déjà vu (berasal dari bahasa Prancis yang secara harfiah “sudah melihat”) adalah sebuah fenomena yang memiliki sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang dialami telah terjadi di masa lalu.  

Beberapa kali saya seperti mengalami peristiwa seperti deja vu dan dua di antaranya yang mengubah hidup saya. Pertama, deja vu yang saya alami adalah ketika saya bermimpi akan lorong-lorong IC (Insan Cendekia). Sekolah yang tidak hanya mengajarkan pelajaran kaya IPTEK dan IMTAQ, tapi juga pelajaran hidup yang mengubah pribadi saya menjadi jauh sangat lebih baik.

Peristiwa deja vu yang kedua inilah yang cukup menarik. Ini bukan mimpi seperti di atas, tapi saya mengalaminya langsung. Lebih tepatnya, peristiwa inilah yang membuat saya bisa mengenal sesosok lelaki yang akhirnya bersama saya mengarungi layar rumah tangga sampai saat ini.

Begini ceritanya.

Suatu malam, saya diantar kakak saya ke tempat travel untuk berangkat pulang ke Jakarta dari Bandung. Seperti biasa, saya gambling saja datang berharap ada satu kursi kosong keberuntungan untuk saya. Naas, mungkin saya terlalu pede, ternyata kursi travelnya sudah full-book.

Namun, ketika saya dan kakak hendak pulang balik ke kosan, kami berpapasan dengan seorang bapak. Entah kenapa tiba-tiba dia bertanya, “Gak dapat kursi ya? Mau kemana emangnya?”. “Iya ni, Pak! Udah penuh yang ke Kelapa Gading,” jawab saya. “Berdua?” tanya si Bapak lagi. “Enggak, cuma saya sendiri”, ujar saya lemas, tapi seperti melihat ada sedikit harapan akan datang. Kemudian si Bapak menyuruh saya menunggu dan selang beberapa menit beliau datang kembali dan mengajak saya ke kasir, “Atas nama Bu Dodo yang ini ya orangnya!” kata si Bapak itu. Walaupun terpintas perasaan aneh dengan nama itu, saya buru-buru saja mengeluarkan uang untuk membayar tiket dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak tersebut.

Sehabis membayar, saya pun menceritakan kejadian singkat itu kepada kakak saya yang mengantar saya. “Alhamdulillah dapat Kak tiketnya! Walaupun aneh dipanggilnya Bu Dodo. Kayak dipanggil nama suami aja”. Kakak saya yang mendengar hanya tertawa dan berujar, “Yaudah, yang penting bisa pulang”.

Kakak saya akhirnya pulang ke kosan dengan tenang dan saya pun menuju mobil travel jurusan Kelapa Gading. Tak disangka, si Bapak tadi yang menjadi sopir.

Saya pun baru tersadar bahwa ini seakan deja vu ketika seorang teman memanggil WDP (yang sekarang menjadi suami saya) dengan sebutan “Dodo” walaupun orang-orang biasa menyebut beliau dengan panggilan “Wiwid” atau “Widodo”. Namun, entah kenapa, ketika saya merasakan ini deja vu, perasaan yang datang secara tiba-tiba itu sangat kuat. Kejadian itu jauh terjadi sebelum saya kenal suami saya dan tahu namanya.

Selain itu, entah berhubungan atau tidak. Saya yang hobi mensketsa orang, pernah menggambar sesosok laki-laki dengan kacamata. Gambar itu pun akhirnya saya tunjukkan pada suami saya, dengan gambaran yang kurang lebih sama dengannya, termasuk kacamata ovalnya. Aneh memang. Entah kalian percaya ini atau tidak. Boleh saja menganggap itu kebetulan atau apa. 🙂

Salam hangat,

ttd1

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. mirza3m says:

    satu peristiwa untuk dua kejadian yang akan dialami. keren dah, ra!

    1. Ruma[h]Rara says:

      Hehe, aneh sebenarnya za! aku aja sampai sekarang masi percaya gak percaya bisa gitu, :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s