Belajar dari Tjoet Nja’ Dhien

Saya baru menyelesaikan menonton film perdana-nya Eros Djarot yang berjudul “Tjoet Nja’ Dhien” yang diperankan oleh seorang artis legendaris, Christine Hakim. Film ini sangat menginspirasi bagi saya sebagai perempuan. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah heroik seorang pejuang perempuan Aceh yang membela tanah kelahirannya agar tidak lepas dan terampas oleh penjajah Belanda saat itu. Kisah ini diambil berlatarkan tahun 1889, sekitar 114 tahun yang lalu, namun nilai-nilai moral dari kisah ini masih dapat diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.

Hidup adalah Perjuangan

Dari awal hingga akhir cerita kita akan mendapatkan kisah dimana Tjoet Nja’ Dhien tetap kukuh memperjuangkan ideologi-nya membela Aceh agar tidak jatuh ke tangan penjajah Belanda. Walaupun di perjalanan, begitu banyak pengkhianatan dari segelintir pribumi yang terjadi, beliau tidak berpatah semangat sedikit pun.

Di dalam kehidupan, pasti dan selalu akan kita temui kerikil kecil atau bahkan bongkahan batu besar yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Terutama bagi seorang yang beragama, walaupun pada akhirnya kita temukan hasil yang kita harapkan tidak sesuai dengan keinginan, kita percaya bahwa hanya Tuhan yang melihat sebuah proses. Jadi, tidaklah baik berkecil hati apalagi menyerah bagi orang-orang yang mengenal Tuhan.

Perjuangan Membutuhkan Strategi

Di cerita itu, jelas rakyat Aceh memperjuangkan hak kemerdekaan tanah airnya. Yang dilawan pun jelas, penjajah. Saat sekarang ini, walaupun Indonesia sudah merdeka dan tidak dijajah lagi, kita–terutama sebagai anak negeri–masih harus terus berjuang membela tanah air kita, Indonesia. Bahkan tanggungjawab perjuangan yang harus kita lakukan saat ini lebih berat. Karena musuh-musuh yang ada tidak jelas terlihat di depan mata. Oleh karena itu, kita harus jeli melihatnya untuk bisa melawannya.

Di dalam perang, jelas dibutuhkan strategi untuk menghadapi musuh. Jika tidak, yang didapat hanya mati sia-sia. Di dalam kehidupan saat ini pun, kita juga butuh strategi. Namun, bukan strategi untuk perang seperti zaman dahulu. Melainkan strategi bagaimana kita bisa membangun negeri ini menjadi paling baik di antara yang lain.

Jika saat zaman penjajahan dulu, rakyat Indonesia fokus untuk mengusir penjajah, saat ini yang harus kita lakukan adalah fokus pada potensi/keahlian kita masing-masing yang harus dikembangkan agar dapat berguna bagi bangsa dan negara. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menjadikan Indonesia sebagai negara nomor satu di dunia?!

Pengkhianatan itu Lebih Kejam

Di dalam cerita Tjoet Nja’ Dhien ini, diperlihatkan bahwa kekalahan-kekalahan yang terjadi, bukan karena mereka tidak mampu melawan penjajah. Melainkan, tipu daya uang atau iming-iming kedudukan membuat beberapa orang rela mengorbankan ideologinya demi kesenangan yang sesaat tersebut dan menyebabkan penderitaan bagi yang lain.

Berkhianat itu mudah dan memang godaan yang sangat besar. Tapi, yang perlu diingat bahwa pengkhianatan itu hanya menimbulkan kesenangan yang sementara. Itulah yang terjadi saat ini di negeri ini. Kita harus menyadari bahwa, banyak di antara kita yang menjadi penjajah bangsa sendiri.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi salah satu contoh nyata. Yang ironi, kita seperti manut pada negara lain yang ingin meraup keuntungan dengan mengeksploitasi kekayaan negara kita. Padahal, apa yang didapat akhirnya? Keuntungan pribadi yang tidak seberapa, tetapi penderitaan jutaan umat berkepanjangan.

Oleh karena itu, mulailah ditanamkan sejak dini, terutama kepada anak cucu kita nantinya, bahwa sikap keberanian terhadap kebenaran itu harus ditegakkan. Ada kata bijak yang menarik dari seorang kakak alumni saya, bahwa “Biasakan kebenaran, jangan benarkan kebiasaan”. Dengan ini, kita akan mencabut akar dari sifat berkhianat tersebut.

Perempuan Punya Hak dan Kewajiban yang Sama dengan Lelaki

Perempuan pun bisa menjadi pemimpin. Bahkan ditunjukkan dalam kisah ini, bahwa selepas suaminya, Teuku Umar tewas terbunuh, dialah yang memimpin perlawanan rakyat Aceh. Tapi, ada sebuah penggalan nasihat Tjoet Nja’ Dhien kepada putrinya, yang sangat bijak.

Keluarga dan Berjuang adalah dua hal yang sama penting bagi perempuan.

Peran kita sebagai seorang perempuan sangatlah besar. Kita harus menyadari dan mempersiapkannya sejak awal. Walaupun, hak dan kewajiban yang sama dan seimbang antara laki-laki dan perempuan pun sudah dijelaskan di dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur’an. Perlu diingat, kata “sama” dan “seimbang” di sini bukan mengacu pada bentuk/wujud yang sama, melainkan pada proporsi yang sama. Maksudnya seperti apa? Perempuan dan laki-laki diciptakan dengan potensi mendasarnya masing-masing.

Sebagai contoh, perempuan dikodratkan melahirkan. Sehingga, perempuan memiliki potensi untuk membesarkan anaknya dengan baik. Walaupun beberapa orang ada yang menyangkal bahwa kegiatan mengasuh anak, mengurus rumah tangga itu adalah pengaruh dari persepsi lingkungan yang membuat kewajiban perempuan seperti itu. Tapi, coba lihat sekitar kita. Hewan mamalia pun seperti itu. Padahal jelas-jelas hewan tersebut tidak dianugerahi akal pikiran seperti kita. Namun, psikologis mereka, sebutlah hormon yang terkandung dalam semua mamalia betina adalah sama. Sifat keibuan itu adalah alamiah. Walaupun tentu saja, sifat mendasar itu bisa berubah karena lingkungan. Dalam pandangan keilmuan saat ini, ada hubungan yang erat antara faktor genetis dan pengaruh lingkungan, yang membentuk perilaku makhluk hidup.

Sebenarnya, intinya adalah sederhana. Di dalam kehidupan selalu ada pilihan-pilihan. Ketika, kita memilih untuk menjadi wanita karir, jangan sampai melupakan kewajiban kita terhadap keluarga sebagai istri bagi suami dan sebagai ibu bagi anak-anak. Sebaliknya, ketika kita memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, jangan pula melupakan hal penting bahwa kita pun juga harus menjadi seorang manajer profesional di rumah. Karena pendidikan paling mendasar seperti budi pekerti dan agama, hanya bisa melekat pada anak ketika diperkenalkan sejak usia dini.

Ketika kita menyadari potensi mendasar kita sebagai perempuan dan sudah mempersiapkannya dengan baik, kita pun siap untuk menerima tanggungjawab yang lebih besar. Tidak hanya membina keluarga yang madani, namun juga dapat membina lingkungan dan negari yang madani.

Link youtube:

Salam hangat,

ttd1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s