Melahirkan itu (tidak) Menyenangkan.

Tapi bagi saya, melahirkan itu sangat menyenangkan. Proses melahirkan anak pertama bagi saya merupakan peristiwa yang sangat mengharu-biru dan menjadi kenangan yang manis tersendiri.

Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya melahirkan normal? Sebenarnya sedikit sulit untuk menjabarkannya secara ringkas. Tapi, saya selalu menjawab, melahirkan itu tidak menyeramkan seperti yang selama ini kita pernah dengar dari orang lain, atau yang sering kita lihat di film. Memang sakit, tapi sakit yang dirasakan bukan ketika si bayi keluar dari lubang vagina kita, melainkan kontraksi di perut menjelang melahirkan itulah yang luar biasa dasyatnya.

Pada awalnya, saya memilih ingin melahirkan normal hanya karena pengaruh dari cerita keluarga dan orang-orang lain. Inti ceritanya sama, bahwa memang melahirkan normal itu sakit pada saat proses melahirkannya, tetapi hanya sementara waktu. Dibandingkan melahirkan caesar yang tidak sakit pada saat melahirkannya, tetapi selanjutkan akan merasakan sakit akibat luka jahitan untuk beberapa waktu lamanya.

Bahkan beberapa orang terkesan malah menakut-nakuti, bahwa melahirkan itu sakit luar biasa antara hidup dan mati, kulit bagai diiris-iris pisau (dikuliti hidup-hidup). Mungkin cerita itu memang benar-benar mereka alami, tetapi bisa juga dilebih-lebihkan. Tetapi, jujur saja hal tersebut sebenarnya tidak mendidik sama sekali, terutama untuk seorang perempuan lugu yang belum pernah melihat langsung sama sekali atau mengalami proses persalinan tersebut.

Namun, saya sangat bersyukur Allah mengizinkan saya dipertemukan dengan banyak orang baik yang akhirnya mengubah paradigma saya selama ini mengenai proses melahirkan. Cerita ini dimulai ketika suami saya sedang ada latihan Capoeira dan bercerita mengenai saya, istrinya, sedang hamil 3 bulan. Teman suami saya tersebut, yang juga istrinya baru melahirkan tersebut bercerita sedikit mengenai proses kelahiran anak mereka yang sungsang tetapi akhirnya bisa terlahir normal dan dia meminjamkan kami 2 buku sakti, yaitu “Gentle Birth” karya Yessie Aprilliani, dan “Having a Baby” karya dr. Mehmed Oz.

Dua buku tersebut akhirnya menjadi “manual” untuk saya dan suami menyiapkan kelahiran anak kami. Kedua buku tersebut juga yang mengantarkan kami untuk melakukan survey tempat bersalin yang cocok bagi saya dan akhirnya bertemu orang-orang super sabar yang membantu saya selama proses persalinan. Tempat tersebut pun direkomendasikan oleh rekan kerja suami saya mengingat saya jauh-jauh hari selalu bercerita ke orang banyak jika saya kelak ketika hamil ingin melahirkan secara waterbirth. Mereka inilah baik langsung atau tidak langsung telah berkontribusi untuk mengubah 180 derajat pandangan saya dan suami mengenai konsep persalinan.

Entah ingin melahirkan secara normal atau operasi (caesar), pada dasarnya itu hak seorang wanita. Tapi setiap pilihan yang kita ambil, sebaiknya kita harus mengetahui konsekuensinya, baik dan buruk. Dalam kasus melahirkan, yang merasakan dampak dari pilihan kita itu, tidak hanya kita pribadi sebagai wanita, tetapi juga anak yang kita lahirkan.

Bagi saya pribadi, melahirkan caesar tidak menjadi pilihan. Mungkin opsi ini menyenangkan karena tidak perlu repot-repot menyiapkan mental baja seperti melahirkan normal. Selain karena faktor ekonomi, mengingat kami sebagai keluarga muda belum sanggup untuk mengeluarkan dana sedemikian besar untuk biaya operasi caesar. Tetapi, jujur saja ini bukan opsi yang cukup tepat untuk menyambut seorang yang spesial. Analoginya, seperti kita yang sedang asik tertidur pulas. Tiba-tiba ada seseorang yang membangunkan secara paksa dari mimpi kita yang indah. Bete gak? Tentu saja.

Tidak ada manusia yang senang dengan perubahan yang mendadak, apalagi perubahan itu tidak menyenangkan baginya. Itulah yang mungkin dirasakan anak kita ketika dokter membedah perut kita dan mengeluarkannya dari rahim yang hangat dan nyaman ke lingkungan yang dingin dan asing. Bahkan si anak bisa mengalami stress di minggu-minggu awal usianya.

Walaupun, opsi ini mau-tidak-mau harus menjadi pilihan ketika kondisi kita secara medis tidak memungkinkan melahirkan secara normal. Tetapi ketika opsi ini harus kita ambil dan kita sudah mengetahui resikonya, setidaknya kita sudah bersiap diri menjalaninya.

Namun, ada satu hal penting yang kita perlu menyadarinya sebagai seorang wanita. Tuhan tidak tanpa alasan menciptakan postur tubuh seorang wanita begitu elok dipandang. Sangat berbeda dengan postur tubuh pria. Terutama struktur tulang pinggul yang membuat wanita menjadi terlihat seksi di mata pria, memang memiliki fungsi khusus agar bisa melahirkan secara normal.

Jadi, hakikatnya setiap wanita, memiliki kesempatan besar untuk melahirkan sendiri secara normal. Sehingga pada dasarnya proses melahirkan itu sendiri memang tidak membutuhkan interfensi medis, jika tidak dibutuhkan. Tetapi, ada satu hal lain yang perlu digarisbawahi, yaitu ketika kita sudah memiliki mental baja untuk berkeinginan memilih melahirkan secara normal, apakah fisik kita juga mendukung?

Kebanyakan, orang yang pada awalnya ingin melahirkan normal, tapi fisiknya tidak sesiap mentalnya, akhirnya malah berujung di meja operasi. Bagai mendapat buah simalakama, sakit kontraksinya dapat, sakit luka jahitan pasca-operasi pun dapat. Ini yang mungkin menjadi salah satu penyebab, melahirkan menjadi peristiwa yang traumatis.

Bagaimanapun juga, ketika kita menginginkan persalinan normal yang menyenangkan, kita pun harus mau bersusah-susah dulu untuk melakukan persiapan, tidak hanya mental tetapi juga fisik. Pernah dengar sebuah quote, practice makes perfect? Ya, ini pun berlaku untuk persiapan persalinan.

Proses melahirkan itu seperti sebuah ritual yang sakral (layaknya pernikahan) sehingga perlu dipersiapkan jauh hari. Oleh sebab itulah masa kehamilan manusia rata-rata berkisar 9 bulan lamanya. Bukan tanpa alasan, melainkan agar sang ibu bisa menjalin ikatan batin yang kuat dengan sang anak sejak menjadi janin di dalam rahim sehingga memperlancar proses melahirkan nantinya.

Ibarat Presiden akan berkunjung ke suatu daerah. Pasti Kepala Daerah dan warganya perlu melakukan persiapan yang benar-benar matang sehingga Presiden tersebut merasa nyaman dan aman dengan kunjungannya.

Bahkan dianjurkan kurang lebih 3 bulan sebelum memprogram kehamilan, untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, seperti berhenti merokok dan minuman keras, serta makan dengan menu yang sehat dan bergizi. Semua ini dilakukan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman untuk bayi, baik selama di dalam rahim ibunya, tapi juga dalam rangka proses persiapan kedatangannya ke dunia. Pada akhirnya, tujuan utamanya hanya satu: ibu senang, anak pun bahagia.

Walaupun saya sendiri menyadari bahwa kehamilan anak pertama tidak benar-benar saya persiapkan secara matang. Seringkali rasa malas dan berbagai keluhan menjadi alasan saya untuk setengah hati menjalankan teori-teori persiapan persalinan yang saya baca, seperti yoga, relaksasi pernafasan, dsb. Namun, yang kini membuat pikiran saya semakin terbuka adalah seberapa banyak dan berkualitas usaha yang sudah saya lakukan selama persiapan fisik, sebesar itulah kesiapan dan ketahanan tubuh saya ketika melahirkan anak pertama.

Dalam proses persalinan, sang ibu dan anaklah yang seharusnya menjadi aktor utama. Sedang yang lainnya, seperti keluarga, dokter, bidan hanya menjadi peran pendukung (supporting system) untuk meningkatkan kepercayaan diri sang ibu. Ketika sang ibu didukung penuh dengan diberikan fasilitas yang membuat si ibu merasa nyaman dan bahagia (tidak harus sesuatu yang mahal) untuk melewati masa kehamilan, maka si ibu akan memiliki kesiapan mental yang cukup untuk menghadapi hari persalinan yang ditunggu. Selain itu jika si ibu sudah sejak dini menjalin ikatan batin dengan janin di dalam rahim, maka akan semakin mempermudahnya untuk berkomunikasi dengan anak ketika persalinan, dan semakin memperlebar jalan untuk bisa melahirkan secara normal.

Kenyataannya, banyak justifikasi-justifikasi yang sifatnya negatif yang dilontarkan pihak yang seharusnya menjadi supporting system, yang pada akhirnya malah menurunkan kepercayaan diri sang ibu. Bahkan pihak-pihak ini seringkali dengan seenaknya mengambil alih peran si ibu. Merasa mereka lebih pintar atau lebih berpengalaman, sehingga dengan seenaknya menjadikan sang ibu hanya sebagai robot. Si Ibu harus mengikut kata-kata mereka, tanpa mau mendengar apa yang diinginkan si ibu. Yang lebih menyedihkannya, ketika si ibu gagal melakukan perannya, pihak tersebut tidak mau disalahkan dan balik menyalahkan si ibu karena tidak mengikuti A-sampai-Z apa yang mereka sarankan.

Hal-hal tersebut, tidak saya alami sepenuhnya. Saya bersyukur karena saya memiliki supporting system yang benar-benar mendukung saya. Dari awal suami saya juga sudah bersemangat untuk ikut belajar bersama mempersiapkan diri. Selain itu, saya dipertemukan oleh orang-orang yang tepat dalam membantu saya persalinan. Mereka dengan super sabarnya menjawab pertanyaan dan kekhawatiran saya yang mungkin terlalu berlebihan karena euforia menyambut anak pertama.

Kelahiran anak pertama saya tidak selancar yang saya duga sebelumnya. Saya mengalami masa penantian yang cukup panjang dari pembukaan 1 ke 2, selama hampir 2 minggu. Selama itu pula saya harap-harap cemas, kapan saya harus melakukan persalinan karena sudah mendekati HPL (hari perkiraan lahir) dan kontraksi yang dirasakan semakin tidak menyenangkan. Tapi percayalah, itu masih tergolong normal untuk kehamilan pertama.

Karena kecemasan saya, saya pun diperbolehkan untuk masuk dan tinggal di rumah bersalin. Waktu seperti berjalan lambat karena dari pembukaan 2 sampai 4 saya masih menunggu 2 hari dan dari pembukaan 4 sampai 10 (lengkap) saya menunggu semalaman. Itu pun saya dan suami sempat terkapar kelelahan paginya karena kurang tidur. Saya juga hampir mati kedinginan setelah malam sebelumnya mencoba untuk masuk kolam ketika pembukaan 7 dan menunggu selama 4 jam tetapi hanya sampai pembukaan 9.

Akhirnya saya diminta untuk tidur, benar-benar istirahat, sampai tenaga saya pulih kembali. Awalnya, saya ngotot ingin tetap melahirkan secara waterbirth. Namun setelah diyakinkan bahwa saya bisa melahirkan normal tanpa harus waterbirth, jadilah anak pertama kami lahir di atas sofa. Proses persalinan ketika kepala janin sudah turun ke panggul sampai lahir pun cukup memakan waktu sekitar 4 jam lamanya. Ini terjadi karena kontraksi yang hilang timbul. Untungnya ketika ketuban saya pecah, terlihat bersih, sehingga bidan berani untuk tetap melanjutkan. Keluarga kami saat itu bahkan sudah menyarankan, jika terlalu lama, dibawa saja ke rumah sakit. Di saat kritis tersebut saya bersyukur karena suami saya bisa tetap tenang selama menemani saya.

Walaupun dengan segala lika-liku yang saya hadapi selama proses persalinan anak pertama, saya bisa mengatakan bahwa melahirkan itu memang menyenangkan. Kenapa?Karena di saat saya benar-benar hampir putus asa dan ingin rasanya menyerah saja dengan rasa sakit kontraksi yang super-duper luar biasa, suami saya selalu menguatkan dan mengingatkan saya akan kedatangan malaikat kecil kami.

Bahkan ketika rasa sakit itu muncul, suami saya bisa-bisanya terpikir untuk bernyanyi lagu Tasya “Libur Telah Tiba” yang digubahnya sendiri menjadi, “Dedek Mau Tiba”. Di saat saya merasakan sakit kontraksi, saya dibantunya untuk menfokuskan pikiran saya ke hal-hal yang positif. Let it flow! Rasa sakit ini hanya sementara, saya sebentar lagi bisa menatap wajah mungil yang selama ini sudah saya tunggu-tunggu. Dan ini menjadi ramuan mujarab yang menguatkan saya untuk berjuang sampai akhir. Saya harus menuntaskan pekerjaan saya.

Yang lebih mengharukan lagi, ketika anak kami seperti ogah-ogahan untuk keluar, suami saya berbisik di perut saya dan mengajaknya mengobrol. Seperti mengerti apa yang diucapkan, ajaibnya tidak lama setelah itu kontraksi kembali datang dan saya bisa mengejan dan lahirlah malaikat kecil kami bertepatan dengan Adzan Magrib tanggal 29 Mei 2013.

Pengalaman melahirkan anak pertama, menjadi bekal saya untuk mempersiapkan kehamilan berikutnya. Saya tentu masih perlu banyak belajar kembali karena setiap kehamilan itu unik dan setiap anak dilahirkan unik. Saya tidak merasa kapok untuk melahirkan, bahkan ketika mengingat momen-momen itu saya dan suami selalu tertawa, terutama atas histeria dan kebodohan yang saya lakukan. Bahkan jika memang diijinkan oleh Tuhan, saya ingin mencoba melahirkan anak kedua di rumah yang notabene tempat yang paling nyaman untuk saya. Sehingga saya bisa menyiapkan prosesi seperti apa yang saya inginkan untuk menyambut kelahiran anak kami selanjutnya.

Melahirkan yang menyenangkan itu bukanlah sesuatu yang terlalu idealis untuk diharapkan. Melahirkan itu memang sakit, tapi bukan berarti tidak bisa dibuat menyenangkan seperti yang kita idamkan. Kita hanya perlu menfokuskan diri kita pada sesuatu yang positif dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target tersebut. Tentu, tidak lupa untuk berserah diri pada Tuhan, karena ada banyak faktor X yang bisa tiba-tiba datang menghalangi.

Berpikir Positif. Usaha Maksimal. Doa.

Salam hangat,

ttd1

– Untuk sang Panglima Kecil Kami, Altamis Matahari Nawira.

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. Sy lagi hamil anak ketiga. Semoga lancar. Malah lebih lancar dari anak kedua aamiin. Sy memang ngerasa paling lama dan sakit anak pertama. Bersyukur anak kedua jauh lebih cepet dan lancar. Ditambah waktu hamil besar anak kedua saya sering naik turun tangga di Ciburial waktu pesantren calon sarjana, jadi mungkin itu sangat membantu hehe.

    1. Ruma[h]Rara says:

      Aamiinn…semoga lançar ya mbak persalinannya nanti. keccuuuppp dari jauuuhhh mmuuuaaahh :-*

    2. Ruma[h]Rara says:

      Semoga lancar ya mbak. Terus berpikir positif, semoga dimudahkan 🙂 aamiinn….

  2. ovhie says:

    aq skrg lg hamil ank ke 2 skrg menginjak 33 mnggu 3 hari semoga lancar kya yg pertma ,,aminnnnn:^)

    1. Ruma[h]Rara says:

      Wah, saya baru baca komen ini. Mungkin sekarang sist sudah melahirkan. Moga ibu dan bayi sehat selalu 😀

  3. This site was… how do I say it? Relevant!! Finally
    I’ve found something that helped me. Thank you!

  4. sion me says:

    Wah terima kasih banyak … semoga saya bisa tetap positif dalam situasi yang ditunggu – tunggu nantinya … 🙂 #minggu35

    1. Ruma[h]Rara says:

      Semangat mbak…semoga lancar persalinannya nanti. Keep calm and rock the belly! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s