Ibu RT vs Ibu Pekerja.

“There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one.”Jill Churchill

Menjadi ibu rumah tangga (atau istilah keren saat ini Stay at Home Mom – SAHM) atau Ibu yang bekerja/beraktivitas di luar rumah (atau istilah keren saat ini Working Mom – WM) sempat menjadi perbincangan hangat di sebuah komunitas yang saya ikuti di salah satu media sosial. Topik ini memang akan terus menjadi perbincangan hangat di antara ibu-ibu sepanjang zaman, selama di bumi ini masih ada yang namanya wanita, hehe.

Tidak sedikit para ibu SAHM yang memiliki keirian hati dengan ibu WM karena terlihat berkilau dan eksis di dunia profesional. Ataupun sebaliknya, para ibu WM yang iri dengan ibu SAHM karena merindukan waktu bersama dengan anaknya yang hilang oleh kesibukan mereka di luar.

Bagi saya, tidak usahlah saling beriri hati atau bahkan saling menghujat. Setiap orang punya kehidupan masing-masing yang tidak bisa diperbandingkan. Karena kondisi keluarga yang satu tidaklah sama dengan kondisi keluarga lain.

Namun yang saya ingin soroti di sini adalah seperti apakah esensi dari menjadi seorang wanita sekaligus ibu dalam kacamata ideal agama saya yaitu Islam?

Poin pertama: Wanita sebenarnya memiliki hak yang sama dengan pria dalam hal pendidikan dan kesempatan berkarya.

Islam tidak melarang wanita berkarir di luar rumah. Bahkan universitas yang pertama kali ada di muka bumi ini, yaitu Universitas Al Karaouine (Al-Qarawiyyin), pun didirikan oleh seorang cendekiawati. Kampus Al-Qarawiyyin ini didirikan pada tahun 859 M di kota Fes, Maroko. Hebatnya, pendirinya seorang wanita muslimah bernama Fathimah Al Fihri.

Poin kedua: Guru pertama seorang anak adalah sang Ibu.

Tentu tidak asing dengan hadist Rasulullah mengenai “Surga ada di bawah telapak kaki ibu“. Hadist ini dimaksudkan tidak lain sebagai pengingat para ibu bahwa apa yang ibu jejakkan pada anaknya (asuhan dan didikan) akan membentuk karakter anaknya yang menentukan kebahagiaan si anak ketika dia sudah dewasa.

Selain itu, lamanya waktu 9 bulan seorang ibu mengandung itu sebenarnya bukan tanpa tujuan. Waktu yang cukup lama ini diberikan Tuhan agar si Ibu bisa sedikit-demi-sedikit menjalin ikatan batin dengan anak yang sedang dikandungnya. Selain itu, di saat inilah kesempatan yang sangat besar bagi seorang Ibu untuk mengenalkan dunia luar kepada anaknya karena otak janin sudah mulai berkembang sejak hari ke-25 janin terbentuk. Seorang ibu telah diberi keistimewaan untuk bisa memanfaatkan seluruh panca inderanya berinteraksi dengan anaknya sejak dalam kandungan, untuk menjadi guru pertama sang anak.

IBU.

ibu n 1 wanita yg telah melahirkan seseorang; mak: anak harus menyayangi –; 2 sebutan untuk wanita yg sudah bersuami; 3 panggilan yg takzim kpd wanita baik yg sudah bersuami maupun yg belum; 4 bagian yg pokok (besar, asal, dsb): — jari5 yg utama di antara beberapa hal lain; yg terpenting: —negeri; — kota; (KBBI)

Kata Ibu memiliki makna yang mendalam untuk seseorang yang penuh kelembutan, kasih sayang dan kehangatan. Penghargaan makna ini bahkan tidak bisa digantikan dengan kata Ayah karena memiliki penghargaan makna tersendiri yang identik dengan sosok yang bijaksana, berwibawa dan bersahaja. Keduanya memiliki andil cukup kuat dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis dan sejahtera.

Bahkan Angela Merkel, Kanselir Jerman, pun dikenal dengan sebutan Mutti, istilah kesayangan untuk Ibu (dalam bahasa Jerman, Mutter).

Ketika memilih menjadi Ibu WM atau Ibu SAHM, sebaiknya hal tersebut memang didasarkan atas keinginan sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain. Dari pengamatan saya, ketika seorang ibu terpaksa menjadi ibu SAHM dan timbul masalah seperti suaminya selingkuh dengan teman kantornya maka si ibu akan menyesali hidupnya, kenapa tidak bisa menghasilkan uang sendiri sehingga tidak hanya bergantung pada suaminya. Sebaliknya, ketika seorang ibu terpaksa menjadi ibu WM dan suatu waktu timbul masalah sebagai contoh anaknya yang terkena narkoba akibat salah pergaulan, si ibu akhinya menyesal kenapa tidak dari dulu memperhatikan anaknya. Yang lebih buruk lagi, ketika si ibu (di kedua contoh) menyalahkan orang lain di kemudian hari.

Hey! Hidupmu ya hidupmu. jangan mau terpengaruh oleh paksaan orang lain. You own your life! Kalau ada orang di sekitarmu yang memaksamu menjadi seperti yang tidak kamu inginkan, pergi jauh-jauh dari orang tersebut. Karena saya jamin, ketika kamu ditimpa musibah, orang tersebut hanya akan berlepas tangan. Jujur saja, saya pernah mengalaminya dan itu mengubah cara pandang saya.

Baik menjadi Ibu WM atau Ibu SAHM, hal ini kembali menjadi pilihan setiap individu wanita. keduanya memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Keduanya pun penuh resiko dan tulisan saya disini ingin sedikit mengulas resiko yang dihadapi oleh kedua peran tersebut.

Stay at Home Mom (SAHM).

Menjadi Ibu SAHM tentu saja seperti memiliki waktu yang melimpah-ruah untuk keluarga. Namun, seringkali waktu tersebut akhirnya dihabiskan si ibu untuk melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci piring, dsb yang akhirnya membuat si ibu lelah dan ujung-ujungnya hanya tersisa sedikit energi untuk bermain bersama anak. Waktu yang sebenarnya berharga untuk mendidik anaknya menjadi terbuang percuma. Istilahnya kuantitas waktu yang dimiliki tidak sebanding dengan kualitasnya.

Saya ingin sedikit bercerita.

Dalam dunia profesional, sosok kepemimpinan (leadership) memegang peranan sangat penting dalam keberjalanan sebuah bisnis perusahaan atau organisasi. Hal ini dilakukan oleh dua jabatan penting yang memegang kendali sebuah perusahaan dan menentukan hidup-mati bisnis tersebut, yaitu kepala perusahaan (CEO) dan pembantu kepala perusahaan (Manager). Dalam ilmu psikologi modern saat ini, kedua peran tersebut lebih baik diisi oleh dua orang yang memiliki karakter kepemimpinan yang berbeda tetapi bisa saling bersinergi, mengisi kekurangan satu sama lain.

Faktanya, dalam berumah-tangga, kedua sosok itu pun diperlukan agar rumah tangga yang dibentuk bisa mencapai visi misinya menjadi keluarga yang seperti kata dan doa orang-orang “…menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah.”

CEO dalam kacamata awam saya haruslah orang yang memiliki visi dan misi jelas untuk perusahaannya. Dia memiliki semangat tingkat tertinggi (number one spirit) dalam menggapai cita-cita perusahaan. Sosok ini tidak haruslah seorang yang detail, tetapi dia memiliki gambaran kerja (framework) yang jelas terhadap apa yang harus dilakukan perusahaan untuk mencapai visi-misi mereka. Dan sosok ini lebih tepat digambarkan untuk sosok ayah dalam keluarga karena pria adalah pemimpin dalam rumah tangganya.

Sedangkan, Manager dalam kacamata awam saya harusnya seseorang yang bisa menerjemahkan visi misi CEO ke dalam kerangka kerja teknis perusahaan. Jadi, sosok ini harusnya seorang yang detail dan memiliki kemampuan manajerial sesuai bidangnya. Dan sosok ini bagi saya lebih tepat digambarkan untuk sosok ibu. Namun, karena ibu di dalam perusahaan rumah tangga cuma satu, jadi sebaiknya juga perlu di-upgrade kemampuannya sehingga bisa menjadi seorang Multi-talented Manager. (Dalam hal ini pria tidak direkomendasikan berpikir untuk menyelesaikan masalah praktis dengan berpoligami karena hanya akan muncul masalah baru :p)

Jadi ya, namanya esensi berumah tangga itu adalah adanya kerjasama antara suami dan istri untuk mencapai satu tujuan hidup bersama, bukan suami-istri bekerja bersama-sama tapi tidak punya satu tujuan. Bukan juga, malah salah satu pihak dijadikan buruh pabrik yang kerjaannya hanya membersihkan rumah, masak, dsb tanpa ikut andil dalam membangun fondasi keluarga yang kokoh. Wong buruh saja punya suara untuk demo, hehe.

Jadi ketika suami meminta sang istri untuk menjadi seorang ibu rumah tangga (SAHM), seharusnya suami juga siap dengan konsekuensi untuk terus meng-upgrade istrinya baik segi intelektual, kemampuan teknis, maupun penampilan.

Nah, untuk menjadi seorang Multi-talented Manager, tidaklah harus ikut-ikutan bekerja di luar seperti yang lain jika tujuannya hanya untuk mengeksiskan diri. Misalnya, ketika kita tidak bisa masak, ikutlah kursus memasak. Ketika kita ingin mengatur keuangan keluarga menjadi lebih baik, ikutlah pelatihan finansial. Masih banyak cara lainnya untuk bisa meningkatkan kualitas kita menjadi Istri dan Ibu yang super keren.

Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya adalah tetap menjaga penampilan diri. ingatlah, suami kita di luar sana bertemu dengan perempuan-perempuan cantik penggoda. Bisa saja suami kita takluk dengan mereka karena terus-terusan melihat kita di rumah kumel dan lusuh.

Agar ibu SAHM itu tidak identik dengan kumel dan daster, sering-seringlah ke salon jika memiliki uang berlebih (jika pas-pasan, buatlah salon sendiri di rumah hehe) dan tetap berolahraga yang teratur agar kondisi tetap sehat menghadapi krucil-krucil yang sangat super-duper sekali tenaganya.

Menjadi Ibu SAHM bukanlah pekerjaan rendahan, Kawan! Ini adalah pekerjaan yang sangat dan sangat mulia. Percayalah, tidak ada satu pun perusahaan di dunia ini yang bisa dan mau menggaji profesi seorang ibu. Menjadi Ibu SAHM membutuhkan banyak kemampuan (skills). Baik menjadi seorang koki handal, menjadi guru untuk anaknya, bahkan mungkin saja menjadi penyanyi kondang di kala menina-bobo-kan sang anak. Jadi jika engkau diremehkan, tidak perlulah bersedih hati. Karena mereka yang meremehkan hanya menjadi pecundang (looser) dan mungkin saja memang mereka tidak mampu menjadi sepertimu. Kau begitu istimewa. Oleh karena itu, perlihatkanlah pada dunia bahwa memang pekerjaanmu istimewa.

Working Mom (WM).

Ketika kita memilih untuk menjadi ibu WM, kita pun harus siap dengan segala resikonya, terutama dalam hal waktu. Kita sudah pasti akan banyak kehilangan waktu berharga kita bersama anak.

Menjadi seorang ibu, tidak hanya berarti dalam konteks biologis, yaitu melahirkan anak dan kemudian si anak dibiarkan begitu saja seperti anak kucing. Jika ada di antara kita wanita yang berpikir seperti itu, tidaklah pantas menyandang gelar sebagai Ibu.

Pada dasarnya, ketika sudah menjadi seorang ibu, kita sebagai wanita tidak bisa lagi berpikir egois, hanya memikirkan diri sendiri. Ketika kita sudah memilih untuk mempunyai anak, maka ketika anak itu lahir, secara otomatis anak itu menjadi tanggung jawab utama kita sebagai orang tua. Ada hal yang tiba-tiba menjadi prioritas utama di atas segalanya, yaitu anak. Tetapi ini juga bukan berarti menutup pintu-pintu impian kita, melainkan ada sebuah penyesuaian terhadap mimpi-mimpi tersebut.

Bagi saya, ketika mengambil keputusan untuk jadi melanjutkan sekolah di luar negeri menjadi sebuah keputusan yang sangat pelik. Awalnya saya sempat menyesal kenapa saya baru menyadari betapa pentingnya pekerjaan seorang ibu yang tidak bisa dijadikan sambilan dengan pekerjaan lainnya. Dua tahun kehidupan awal adalah masa emas perkembangan otak seorang anak.

Namun saya tidak bisa memutuskan begitu saja meninggalkan beasiswa yang sudah saya terima. Dengan segala bantuan dari pihak pemberi beasiswa mengenai keringanan penundaan masa studi 6 bulan, tetapi tiba-tiba saya batalkan, mungkin saja akan membawa dampak buruk bagi identitas orang Indonesia ke depannya. Oleh karena itulah, saya pun terus melangkah pada jalan ini dengan tetap berkeinginan agar Alta bisa ikut dari awal bersama saya. Walaupun tidak 24 jam full-time bersamanya, setidaknya saya bisa terus memantau perkembangannya dari hari ke hari.

Saya nekat saja pergi berdua dengan Alta ke Jerman dan menjadi single-mom selama beberapa bulan pertama di negara orang. Tetapi, luar biasanya, segala kemudahan saya dapatkan: dimulai dari bantuan ibu-ibu Indonesia yang tinggal disini dan teman-teman saya yang juga berkuliah disini, hingga kebaikan hati kepala Daycare yang mau membantu saya menyelesaikan surat perijinan tinggal disini. Selain itu, fasilitas disini yang memang memadai untuk orang-orang yang menjadi single-parent, membuat saya bisa melakukan sesuatu yang mungkin mustahil dilakukan di Indonesia.

Namun, tetap saja, anak membutuhkan sosok ayahnya dan saya pun tidak kuat untuk mendidik Alta sendirian. Selain itu, saya yang tipikal tidak sabaran dan cepat emosi, hanya bisa diimbangi oleh suami saya yang penyabar dan berkepala dingin. Akhirnya suami saya mengalah untuk menyusul saya kesini. Semua ini tidak akan bisa saya lakukan sendiri tanpa supporting system yang kuat, terutama dukungan suami dan orang-orang yang banyak membantu saya selama di sini.

Dan jujur saja, memang sangat berat bisa menyeimbangkan waktu dan energi untuk anak dan pekerjaan kita, apalagi jika anak masih di bawah umur 3 tahun. Karena di umur ini anak masih sangat membutuhkan perhatian orangtuanya sehingga akan terlihat manja dan rewel. Jadi bersyukurlah para SAHM yang memiliki waktu lebih untuk anak yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang berharga dan berkualitas.

Di Jerman ada kebijakan pemerintah untuk setiap wanita yang bekerja, berhak memiliki cuti melahirkan dan mengasuh anak selama 1 tahun dan tetap mendapat gaji dari perusahaan tempat bekerja. Hak cuti ini bahkan bisa diperpanjang hingga sampai 3 tahun, walaupun tidak mendapat gaji, tetapi perusahaan tidak berhak memecat karyawannya karena ini. Enak bukan? Berdoa saja Menteri Pemberdayaan Perempuan di Indonesia bisa mengeluarkan kebijakan serupa.

Namun, yang paling sangat saya sadari adalah ketika saya memilih untuk menjadi WM, saya tidak ada hak untuk menuntut ini-itu kepada Alta nantinya. Karena secara sadar, saya sudah mengurangi haknya untuk mendapatkan perawatan, pengasuhan, pendidikan yang semestinya dia dapatkan dari tangan ibunya. Walaupun memang tidak sepantasnya ada seorang ibu yang ribut-ribut menuntut haknya kepada anaknya, ketika dia sebenarnya tidak memberikan hak-hak anaknya.

Ketika saya memilih memasukkan Alta ke Daycare untuk dirawat sementara waktu saya beraktivitas di kampus, saya pun mau-tidak-mau harus siap dengan konsekuensi nantinya mungkin ketika sudah tua tidak diasuh oleh anak. Oleh karena itulah ketika sudah tua saya harus tetap fit seperti kebanyakan nenek-kakek disini yang masih bisa bersepeda-ria. Lagipula, saya bercita-cita ingin menikmati kembali honeymoon bersama suami kelak ketika sudah tua seperti kebanyakan kakek-nenek yang so sweet disini hehe.

Ujung-ujungnya, semua kembali kepada pilihan kita masing-masing sebagai seorang wanita dan seorang ibu. Seperti apakah mimpi kita untuk masa depan anak kita, apakah sudah sama dengan usaha yang kita berikan untuk mengasuh, mendidik, dan merawat mereka? Hanya kita pribadi yang bisa menilainya.

Yang pasti, segala sesuatu yang kita peroleh nantinya, berbanding lurus dengan usaha-usaha apa saja yang sudah kita lakukan saat ini. Tentu saja usaha yang dilakukan juga diiringi doa kepada Sang Pencipta dan Penjaga karena hanya Dia-lah yang bisa menjaga keluarga kita dari segala mara bahaya.

Salam hangat,

ttd1

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. aisyah says:

    Super sekali tulisannya mba. 😀
    Lagi cari-cari tentang SAHM and WM nyangkut kesini.
    Boleh tu kapan2 diceritakan kehidupan perkuliahannya di Jerman sembari mengasuh anak juga.
    Karena saya juga niatnya pengen lanjut kuliah lagi, tapi nanti setelah anaknya lahir. semoga bisa kesampean Hehe.

    1. Ruma[h]Rara says:

      Terima kasih mbak aisyah komennya. Saya masih belajar sampai sekarang untuk bisa mengatur waktu antara keluarga dan kuliah hehe. Aamiin, semoga bisa melanjutkan kuliah juga ya mbak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s