Indonesia & Tradisi Pengkultusan di Keluarga.

Bagi saya, ada sebuah penyakit kronis yang menjangkiti sebagian besar orang Indonesia, yaitu terlalu mengkultuskan seseorang.

kultus /kul·tus/ n 1 penghormatan resmi dl agama; upacara keagamaan; ibadat; 2 sistem kepercayaan; 3 penghormatan secara berlebih-lebihan kpd orang, paham, atau benda;

mengultuskan /me·ngul·tus·kan/ v mendewa-dewakan; memuja-muja: penduduk di pulau itu ~ rajanya;

pengultusan /pe·ngul·tus·an/ n proses, cara, perbuatan mengultuskan: situasi yg tidak normal itulah yg menyuburkan ~ thd seseorang (KBBI)

Sadar atau tidak sadar, tradisi pengkultusan ini seperti sudah mendarah daging, mungkin saja tidak bisa diobati. Kenapa? Karena orang-orang tersebut tidak sadar dia terjangkit penyakit tersebut. Jadi mau dikritisi sedemikian rupa juga akan mental. Jadi, baiknya saya bercerita saja disini, pengkultusan seperti apa yang saat ini sedang populer di masyarakat Indonesia.

Sejak Pemilu Presiden 2014, sudah terbentuk dua kubu ekstrem yaitu Pendukung Buta Calon Presiden Jokowi (Jokowi’s Fanboys) dan Pendukung Buta Calon Presiden Prabowo (Prabowo’s Fanboys). Segala permainan politik pihak berkepentingan yang melancarkan kampanye-kampanye negatif bahkan yang hitam sekalipun, memang bertujuan dengan sengaja untuk menyerang kedua belah pihak kubu sehingga terpanasi dan terkonfrontasi. Bertengkarlah mereka satu sama lain. Saling ejek dan mencaci-maki.

Bahkan ketika Presiden terpilih naik dan mulai mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang terlihat bertentangan dengan seperti yang dulu pernah ia janjikan ketika masa kampanye, mulai kembali ramai dengan status ber-hashtag #ShameOnYouJ*****. Sebelumnya, juga sempat ramai status ber-hashtag #SameOnYouS** karena ketidakpuasan rakyat dengan Presiden SBY.

Malu-maluin deh kamu yang ngejelek-jelekin Presiden sendiri di Sosmed yang bisa dilihat Internasional

Menurut saya, beginilah tingkah-polah orang-orang yang terlalu mengkultuskan seseorang. Mereka mengganggap bahwa Pemimpin mereka Sang Dewa tanpa cacat. Ketika Pemimpin mereka membuat satu kesalahan, ada yang seperti tidak terima dengan kenyataan dengan menghujat, namun ada juga yang tetap memuja dengan mencari seribu pembenaran atas kelakuan Pemimpin mereka. Lain lagi dengan cerita mereka yang menganggap seharusnya Pemimpin mereka yang duduk ditampuk kekuasaan. Jadi, ketika Pemimpin terpilih tidak bisa menjalankan amanat rakyat, mulailah mereka melakukan pengandaian, “Jika saja Pemimpin saya yang jadi Presiden” dan blablabla.

Bagi saya, siapapun Presiden Indonesia yang terpilih, merupakan cerminan dari pola pikir masyarakat Indonesia saat ini. Yang berlalu sudahlah berlalu, jadikan sebagai pembelajaran. Kita harus menatap ke depan. Ketika Pemimpin yang sekarang melakukan kesalahan, memang perlu dikritisi, tetapi dengan kritik yang membangun. Bukannya dengan cacian dan makian.

Saya jadi berpikir bahwa tradisi pengkultusan ini mungkin saja menjadi salah satu penyebab mengapa kita gampang sekali diadu-domba oleh pihak luar yang berkepentingan ingin menguasai Indonesia. Yah, saya masih menganggap bahwa negeri ini masih kaya-raya, gemah ripah loh jinawe. Walaupun kenyataan di lapangan tidak seperti dalam impian.

Masi ingat strategi “Divide de Impera“, yang menjadi taktik paling ampuh sehingga kita akhirnya bisa dijajah oleh Kompeni Belanda? Mungkin saja taktik ini juga yang sedang dilancarkan oleh sebuah pihak di luar sana untuk memecah belah persatuan dan persaudaraan sebagai satu bangsa, senasib dan sepenanggungan.

Mungkin ini juga yang menjadi penyebab Indonesia gak maju-maju. Karena masih banyak masyarakatnya yang terlalu sibuk mengomentari urusan orang lain dibandingkan memikirkan “dapur” mereka sendiri.

Kenapa tradisi Pengkultusan ini saya bilang mendarah daging?

Lihat saja dengan kultur budaya kita yang santun dan taat pada yang lebih dituakan. Sebenarnya kultur ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, kultur ini membawa dampak positif karena kita dikenal sebagai bangsa yang ramah. Namun, disisi lain bisa menjadi bumerang bagi kita.

Dulu ketika masa orientasi mahasiswa, pasti pernah tahu mengenai aturan seperti ini:

Pertama. Senior tidak pernah salah.

Kedua. Jika Senior salah, lihat kembali Pasal Pertama.

Sadar tidak sadar ini juga terjadi dalam lingkungan keluarga. Ketika menjadi orangtua, banyak yang mengganggap bahwa kita lebih tahu dibandingkan anak kita karena pengalaman yang lebih banyak (Istilahnya: sudah banyak makan asam-manis garam). Secara tidak sadar, orangtua menjadi berperilaku seenaknya terhadap anak. Pada akhirnya orang tua sendirilah yang membentuk perilaku anak yang mengkultuskan dirinya sebagai orang tua yang harus ditaati secara membabi-buta.

Padahal bagi orang yang percaya Tuhan itu cuma satu, harusnya sadar dengan hal ini. Masa kita ngajarin anak untuk nyembah kita?

Orang tua macam ini lebih banyak memberikan larangan ini itu tanpa memberikan arahan dan alasan mengapa ada larangan tersebut. Sehingga anak hanya mendapat dua pilihan, menjadi seorang yang manut-nut-nut atau seorang pembangkang/pemberontak. Kenyataannya kedua sifat ekstrem tersebut akan merugikan untuk diri si anak ketika mereka dewasa. Anak yang manut-nut-nut bisa tumbuh menjadi seorang yang penakut dan “ngekor” aja kata pemimpinnya. Sedangkan anak yang pembangkang/pemberontak bisa tumbuh menjadi pengikut golongan ekstremis radikal yang kerjaannya cuma mengkritik dan mencaci-maki orang-orang jika tidak sesuai dengan “perut” mereka.

Selain itu, seringkali ketika orang tua berbuat salah kepada anak, mereka merasa gengsi untuk meminta maaf. Lebih parahnya, si anak yang dijadikan kambing hitam, seperti “Ayah/Ibu kayak gini kan karena kamu juga, gini…gini…gini” dan seribu alasan lainnya. Pada akhirnya akan terbentuk pola pikir bahwa yang tua tidak pernah salah, dan ketika mereka dewasa mereka berhak untuk menindas yang lebih muda. Ini juga bisa membentuk karakter seseorang yang merasa dirinya paling benar se-dunia.

Ada juga kasus, ketika anak melakukan kesalahan, kita sebagai orang tua cuma bisa bilang, “Tuh kan! Udah dibilangin gini-gitu gak mau nurut”. Perkataan ini sebenarnya sangat berbahaya karena bisa membentuk karakter anak yang takut mencoba, karena takut berbuat salah. Mereka berpikir ketika mereka berbuat salah, kiamatlah dunia.

Padahal, menjadi orang-tua bukanlah menjadi malaikat yang tidak pernah salah.  Darimana si anak bisa belajar bahwa ada saatnya orang melakukan kesalahan dan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, kalau bukan dari kita orang tua mereka? Sehingga ketika mereka dewasa, mereka bisa lebih memahami orang-orang di sekitarnya dengan segala problematika hidup mereka.

Juga, ketika si anak terjun ke masyarakat tidak dengan gampang percaya dengan orang dan kemudian mengkultuskan orang tersebut secara membabi-buta. Jadi, secara tidak langsung kita bisa ikut andil dalam mengubah tradisi pengkultusan yang sudah mendarah daging sekarang ini untuk generasi mendatang yang lebih baik.

Jadi, yuk kita ubah pola pikir kita mulai dari diri sendiri dan keluarga, demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Salam hangat,

ttd1

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s