Anak, Sekolah, dan Pendidikan Karakter.

“There is no school equal to a decent home and no teacher equal to a virtuous parent.”
Mahatma Gandhi

Saya terkenang ketika saya dimasukkan ke sekolah berasrama. Saya (mungkin) bagi keluarga termasuk semacam pencilan, jika tidak mau dibilang anak “bandel” dan “pemberontak”. Harapannya mungkin agar saya menjadi anak yang lebih sholehah sekeluarnya dari sana. Tapi, sampai saat ini, jujur saja, jiwa “bandel” dan “pemberontak” itu masih melekat kuat di dalam diri saya.

Walaupun tidak ada sedikitpun rasa penyesalan pernah mengecap pendidikan di sebuah sekolah yang bernama Insan Cendekia. Saya malah sangat bersyukur karena saya tidak hanya belajar akademis, tetapi juga belajar hidup. Saya berubah, mungkin 180 derajat, dan bagi saya perubahan itu lebih baik untuk diri saya sendiri. Terlebih lagi, saya bertemu dengan guru-guru yang sangat berdedikasi tinggi. Mereka tidak hanya menjadi guru, namun juga menjadi orangtua kedua bagi kami anak muridnya.

Namun, mungkin yang saya sadari adalah dengan menjalani pendidikan 24 jam non-stop di luar rumah selama 3 tahun, membuat saya menjadi kehilangan “tali merah” dengan rumah saya yang sebenarnya. Jujur saja, saya tidak dekat dengan mama dan papa saya sendiri, dan juga anggota keluarga lainnya. Saya seperti mempunyai kehidupan saya sendiri.

Mungkin ini yang pernah dikeluhkan oleh kakak tertua saya, yang merasa saya tidak peka dengan kondisi keluarga di rumah. Ketika saya memiliki anak, barulah saya bisa merangkai semua tautan itu kini. Ya, memang saya menjadi seorang anak yang tidak peka dengan keluarga sendiri dan saya menyesali hal tersebut. Namun, nasi yang sudah menjadi bubur itu, masih bisa dimakan tho. Jadilah saya menjadikannya pembelajaran untuk mendidik anak-anak saya ke depannya.

Adalah tanggungjawab penuh orangtua untuk memberikan pendidikan karakter dan budi pekerti untuk anak-anaknya.

Gelar orangtua menjadikan seseorang berpotensi untuk menjadi seorang guru yang paling luar biasa hebatnya. Luar biasa ini bisa berkonotasi positif ataupun sebaliknya, berkonotasi negatif. Semua kembali kepada kita, bagaimana memanfaatkan potensi tersebut secara bijak.

Anak yang dilahirkan ke dunia hanya dibekali Tuhan dengan insting purba, yaitu “insting untuk bertahan hidup”. Jadilah segala macam cara mereka lakukan agar keinginan mereka terpenuhi. Disinilah peran orangtua untuk memberikan sedikit-demi-sedikit pengetahuan bagaimana menjadi seorang manusia, bukan malah menjadi manusia purba.

Yang sudah punya anak, apalagi anaknya sudah besar, mungkin pernah mengalami hal-hal ini. Ketika baru lahir hingga umur 3 bulan, anak hanya bisa menangis dengan satu irama untuk semua keinginannya. Menginjak usia 3 bulan sampai 9 bulan, mulailah tangisannya bermacam-macam untuk setiap keinginannya. Di atas 9 bulan, anak sudah bisa belajar berteriak dan meronta-ronta agar keinginannya terpenuhi. Semakin dewasa, semakin banyak akal bulusnya untuk membujuk rayu orangtuanya agar takluk dan menuruti keinginan mereka.

Satu kata, memang begitulah anak kecil.

Cara belajar anak sesederhana otak purba mereka: tiru, lakukan, dan lihat reaksi lingkungan. Syukur-syukur jika yang ditiru perilaku baik, tapi jika kasusnya perilaku buruk? Kita tidak bisa menyalahkan anak atas perilaku buruk yang mereka lakukan.

Entah secara tidak sadar kita yang mencontohkan, atau mereka melihat teman-teman mereka melakukan hal tersebut, atau mencontoh dari tontonan video atau TV. Yang pasti, sebagai orangtua, yang harus kita kontrol adalah bagaimana reaksi kita terhadap perilaku buruk tersebut. Memang enak sepertinya, tinggal marah, menjewer, memberikan hukuman dan reaksi instant lainnya. Namun, apa yang kita peroleh?

Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat saat kita memberikan hukuman kepada mereka. Tapi apa yang kita lakukan terhadap mereka, akan berjejak di otak bagian memori mereka dan sewaktu-waktu bisa muncul. Yakin deh, ketika kita menjadi orangtua yang tidak mau capek-capek memperhatikan pendidikan mereka sejak dini, anak kita nantinya hanya akan menjadi generasi instant, yang kerjaannya menyalahkan orang lain, arogan, merasa paling benar, dsb.

Lebih baik capek dan lelah mem-“brain wash” otak mereka ketika masih kecil dibanding “brain washing“-nya dilakukan oleh lingkungan (yang katanya makin hari makin ganas). Yang ada kita cuma bisa capek hati melihat kelakuan mereka ketika sudah dewasa, tanpa punya andil lagi untuk mengubahnya. Penyesalan ya cuma tinggal penyesalan.

Hal inilah yang membuat saya mengambil keputusan nekat untuk membawa Alta ikut serta bersama saya. Pengalaman-pengalaman pribadi saya masa lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk saya dengan membuat kenekatan semacam ini. Saya tidak ingin terjadi banyak penyesalan nantinya ketika Alta sudah dewasa dan sudah bukan tanggungjawab saya lagi untuk mengubahnya.

Konsekuensinya banyak dan saya sudah memahami hal itu ketika sesampainya saya di Jerman. Jadilah 4 bulan sebelum suami saya menyusul kesini, saya merelakan jam kuliah dan waktu belajar saya untuk membereskan semua urusan, termasuk administrasi Daycare Alta disini.

Tetapi yang paling saya syukuri adalah saya bisa terus memperhatikan perkembangan Alta dari hari ke hari. Selain itu saya juga bisa tenang mendidik Alta tanpa terganggu atas interferensi orang-orang yang seringkali merasa diri mereka lebih tahu bagaimana cara mengurus seorang anak. Saya seringkali merasa jengah dengan orang yang merasa saya hanya bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa dalam mengurus anak dan mereka bisa seenaknya memberi perintah harus ini-dan-itu.

Walaupun begitu, setidaknya pengalaman ini mengajarkan saya untuk mempersiapkan diri untuk memberikan pendidikan dini untuk anak perempuan saya nantinya untuk menjadi seorang ibu.  Begitupun, saya juga harus mempersiapkan pendidikan dini untuk anak lelaki saya nantinya untuk menjadi seorang ayah. Bukan ketika mereka sudah menjadi orangtua, baru tersadar kalau kita belum membekali mereka apa-apa.

Adalah salah besar melimpahkan tanggungjawab pendidikan anak kepada pendidikan yang ada di sekolah karena mereka hanyalah bagian dari supporting system.

Walaupun saya mengambil keputusan menitipkan Alta di Daycare selama saya berkegiatan di kampus, saya sadar tanggungjawab mendidik anak ada di tangan kami berdua sebagai orangtua. Dan hal ini tidaklah mudah, terutama bagi saya, yang bukan seorang “multi-tasking” yang baik. Seringkali saya kewalahan dan hampir lepas kontrol. Saat-saat seperti inilah saya sadar, mengurus anak memang tidak bisa sendiri. Peran ayah melengkapi peran ibu, dan sebaliknya. Kedua peran tersebut tidak tergantikan. Inilah satu-satunya alasan saya tidak kuat berlama-lama menjadi “single mother“.

Saat ini Alta yang menginjak usia 18 bulan, sudah mulai berteriak, memukul orang, dan melempar segala sesuatu di dekatnya ketika keinginannya tidak terpenuhi. Entah darimana dia belajar hal seperti itu, bisa dari temannya di Daycare, atau melihat orang-orang di luar rumah. Tapi, apakah saya boleh menyalahkan orang lain, termasuk pihak Daycare?

Sama sekali tidak. Semua hal tersebut sudah menjadi konsekuensi dalam keputusan saya memasukkan Alta kesana. Salah besar jika ada orangtua yang seenaknya menyalahkan pihak sekolah atas perilaku anak mereka yang tidak terkontrol. Orang terbiasa untuk menyalahkan lingkungannya ketika sesuatu yang di luar kendali mereka terjadi, tetapi mereka jarang sekali mengintrospeksi diri, apakah mereka memiliki andil terhadap terjadinya hal tersebut.

Yang sekarang menjadi fokus kami sebagai orangtua adalah bagaimana memberitahu kepada Alta dengan bahasa yang baik dan mudah ditangkap oleh otak purba-nya. Bahwasannya, yang dia lakukan termasuk perilaku yang buruk karena bisa merugikan orang lain dan/atau merusak lingkungan.

Sepertinya mudah diucapkan. Namun, pada prakteknya ruaarr biasa susahnya saudara-saudara! Karena menjadi orangtua harus bermodalkan kesabaran dan kreativitas tingkat tinggi untuk menandingi akal bulus anak kecil yang super-duper jenius.

Lucunya, jiwa “bandel” dan “pemberontak” saya pun diturunkan kepada Alta. Tidak jarang ketika saya tidak kuat menghadapi kelakuannya, saya mengakhirinya dengan pergi meninggalkannya menangis dan berteriak-teriak sendiri. Ini cara yang bagi saya lebih baik ketimbang harus membentak dan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik sebagai seorang ibu.

Karena ucapan seorang ibu, baik atau buruk, akan menjadi doa untuk anaknya. Jangan sampai ucapan yang kita lontarkan kepada anak pada akhirnya hanya menjadi bumerang untuk kita nantinya.

Salam Cinta,

ttd1

Seorang anak yang belajar untuk menjadi seorang Ibu yang baik untuk anaknya.

NB: Bagaimanapun juga, tidak pekanya saya terhadap keluarga saya, saya sangat menyayangi orangtua saya yang sudah membesarkan saya sampai saya bisa seperti ini. I love you both always and forever.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s