Hormati Suami. Sayangi Istri.

“Ih papa mu tuh jorok banged sih.”

“Mama mu susah banged dibilangin, ngabisin duit buat belanja yang tidak perlu.”

Sering tidak mendengar ucapan semacam di atas terlontar dari orangtua kita? Entah pengalaman pribadi atau melihat orang lain, saya pribadi menyadari ketika saya menikah, saya bisa merasakan efek negatifnya. Sifat ego manusia, seringkali membuat kita lupa diri dan ingin tampil lebih dominan dibanding pasangan kita. Padahal, ketika sudah berumah tangga, sering-seringlah berinstrospeksi diri.

Kenapa?

Karena ketika sudah mempunyai anak, anak akan melihat dan mencontoh bagaimana kita memperlakukan pasangan kita. Ini berpengaruh besar terhadap bagaimana anak memperlakukan kita sebagai orangtua dan juga nantinya memperlakukan pasangan mereka ketika sudah berkeluarga.

Saya berprinsip bahwa suami saya adalah idola bagi anak-anak, terutama anak laki-laki kami. Oleh karena itu, saya harus sadar tanggungjawab saya sebagai istri untuk bisa menghormati suami saya dan mendukung perannya sebagai ayah dan kepala keluarga. He’s the CEO and I am the Manager 😀

Oleh karena itulah, saya dan suami memiliki kesepakatan bersama, tidak saling menjelek-jelekkan atau bahkan menjadikan bahan olokan kekurangan masing-masing di depan anak-anak.

Ketika ada masalah dengan pasangan, biasanya ketika saya tidak bisa mengontrol emosi saat itu juga, saya lebih baik diam dan pergi mengurung diri sampai tenang. Dibanding, harus berucap hal-hal yang tidak pantas diucapkan sebagai seorang istri. Lama-kelamaan saya belajar bagaimana berkomentar sesuatu yang tidak disukai dengan bahasa yang baik dan tidak menyakiti.

Selain itu, ketika pasangan marah kepada anak dan kita tahu bahwa sebenarnya yang salah adalah pasangan kita. Lebih baik tidak mengoreksi di depan anak karena itu bisa menjatuhkan harga diri pasangan kita. Akibatnya anak tidak menghormati pasangan kita sebagai orangtua.

Ada juga beberapa kasus orangtua memberi wejangan kepada anaknya.

“Kamu nanti jangan mau bergantung sama suamimu ya. Lihat ibumu tidak bisa apa-apa!”

“Kamu jangan jadi suami yang takut istri!”

Wejangan ini sama sekali tidak berarti, hanya menjadi omongan belaka, jika si orangtua tidak benar-benar mencontohkan bagaimana memperlakukan pasangannya dengan baik. Karena secara tidak sadar, otak si anak sudah terbentuk dengan rekam jejak dari contoh-contoh yang dipertontonkan orangtuanya sejak mereka kecil. Jadi mau diberi wejangan bagaimanapun, kalau orangtuanya cuma “Om-Do” (Omong Doang), jangan terlalu banyak berharap anak mengikutinya.

Saya dan suami pun berprinsip bahwa tidak ada yang terlihat lebih dominan, entah saya atau suami, di dalam keluarga. Ibu dan Ayah memiliki porsinya masing-masing memberi warna dalam kehidupan anak. Karena ini bukan masalah siapa yang paling ditakuti. Namun, ini masalah bagaimana anak bisa menghormati ayahnya dan menyayangi ibunya. Bahkan ketika mereka sudah berkeluarga nanti, anak perempuan kita bisa menghormati suaminya, dan anak laki-laki kita bisa menyayangi istrinya.

Jadi, sayangilah istrimu dan hormatilah suamimu! 🙂

Salam hangat,

ttd1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s