Ilmu Gagal.

It’s fine to celebrate success but it is more important to heed the lessons of failure. -Bill Gates

Semua orang pasti pernah merasakan kegagalan. Baik itu kegagalan kecil atau besar. Mendengar kata “gagal” saja sudah buat bulu kuduk merinding. Tidak ada seorangpun yang mau gagal.

Tapi yang namanya hidup memang akan seperti itu. Ada sukses pasti ada gagal. Ketika kita tidak pernah merasakan kegagalan, kita tidak pernah tahu artinya bahagia dalam kesuksesan.

Namun, tetap saja. Tidak semua orang bisa menerima kegagalannya dan belajar banyak dari kegagalan tersebut untuk dijadikan sebagai bekal kesuksesan hidupnya ke depan.

Saya pernah merasakan kegagalan dalam hidup. Ketika saya ingin mengejar mimpi saya, tetapi saya salah mengambil langkah. Banyak masalah yang muncul secara bertubi-tubi, hingga kepercayaan diri saya goyah. Di saat gagal itulah saya sadar, siapa yang tulus membantu saya untuk bangkit. Karena ada saja beberapa orang yang di mulutnya berempati, namun perlakuan yang mereka berikan merendahkan saya sebagai seorang pecundang.

Itulah seninya “gagal”. Kita bisa melihat watak asli seseorang karenanya.

Lalu, kenapa banyak orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dari kegagalannya? Menerima kenyataan kalau kita gagal saja adalah pekerjaan terberat, apalagi belajar darinya. Pandangan saya pribadi adalah dikarenakan kita (orang-orang yang gagal ini) tidak pernah mendapat ilmunya.

Kita hanya dihargai seseorang ketika kita terlihat sukses di mata orang lain. Tetapi jarang sekali kita bisa menghargai seseorang yang gagal, sehingga kita tidak mau capek-capek membantunya. Sehingga otak berpikir kita hanya tertuju untuk bagaimana menjadi seseorang yang perfeksionis: tanpa cacat dan salah.

Dan ini menjadi bumerang dalam kehidupan. No body is perfect! Jika kita memaksa diri menjadi seorang perfeksionis, kita tidak akan pernah bisa menikmati hidup kita.

Menerima kegagalan adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Ini butuh proses serta bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, bagi saya seorang ibu dan pemerhati pendidikan anak, ilmu “kegagalan” perlu diberikan kepada anak sejak dini.

Saya pernah mendapat nasihat menarik dari seorang yang saya anggap Guru. Asam pahit kehidupan berwirausaha (hingga dia bisa sukses saat ini) menjadikannya seorang yang bijak dalam memandang kata “gagal”.

“…lebih baik gagal untuk hal-hal yang kecil, yang ruginya tidak seberapa, dibanding gagal besar dan rugi besar” -Syauki Amin

Pesan ini melekat sekali untuk saya dan suami, terutama dalam mendidik anak kami. Jadilah kami berprinsip, biarkan mereka tahu bagaimana rasanya gagal (baik itu sakit fisik atau perasaan sedih), agar mereka mau belajar untuk mencobanya lagi dan lagi. Tugas kita sebagai orang tua hanya menjadi sistem pendukung (supporting system): pemberi semangat (baik materiil maupun non-materiil).

Sayangnya tidak jarang ketika seorang anak gagal bahkan ketika dia dewasa, orangtuanya yang menjadi orang pertama yang menghujatnya. Ketika mereka sukses, orangtuanya berkoar-koar bahwa mereka yang ikut andil dalam kesuksesan anaknya.

Mungkin poin kedua benar. Namun, orangtua memiliki andil juga dalam kegagalan anaknya. Seharusnya, ketika seorang anak gagal, orangtuanya lah yang menjadi penolong di gardu terdepan. Di saat lingkungan merendahkannya, kitalah yang bisa meyakinkan mereka bahwa mereka sebenarnya bisa mengubah keadaannya lebih baik ketika mau berusaha. Man jadda wa jada.

Sudah banyak contoh kisah orang-orang yang sukses. Alur ceritanya sama koq. Mereka pernah gagal, tetapi mereka memiliki sistem pendukung (supporting system) yang sangat baik.

Gagal itu tidak harus dalam bentuk materi loh! Seperti bisnis yang bangkrut dsb.

Namun, gagal itu bisa dalam bentuk karaktek yang merugikan orang lain. Yang saya percaya, pada dasarnya setiap orang itu memiliki sisi baik dan juga ingin diperlakukan baik.

Seringkali, ketika seorang anak gagal berbuat baik terutama kepada orangtuanya, langsung dicap sebagai anak durhaka. Kalau sudah seperti ini, seharusnya, kita sebagai orangtua perlu berintrospeksi diri. Apakah ada yang salah dahulu ketika mendidiknya? Bisa jadi karakter buruk tersebut karena kita orangtua tanpa sengaja mencontohkan. Atau kita membiarkan saja mereka berperilaku seperti itu.

Tapi, tiada kata terlambat untuk mencoba memperbaiki kegagalan tersebut. Selama nafas masih terhembus, belajarlah untuk gagal!

So, gagal? Siapa takut! 😀

Salam hangat,

ttd1

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s