Saya Tidak Membencimu.

Sejak Presiden Obama memberikan pernyataan tentang pengesahan UU perkawinan sesama jenis, yang menjadi angin segar untuk kelompok LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender), mulailah bermunculan kubu PRO dan KONTRA, dan keduanya pun saling berperang.

Sebelum benar-benar berperang, mungkin pertanyaan paling mendasar adalah:

Apakah keputusan tersebut memang timbul dari kesadaran yang mendalam atas konsekuensi, baik atau buruk, yang akan diterima baik oleh dirinya sendiri, keluarga, atau lingkungan sekitarnya ke depan?

Atau hanya ikut-ikutan tren saja. Melihat pihak yang PRO banyak berasal dari kalangan beken. Sebaliknya, pihak yang KONTRA melihat dengan berbagai ketakutan-ketakutan yang akhirnya terlalu men-generalisir masalah.

Dalam hidup, kita perlu memiliki suatu pegangan sendiri yang kita yakini agar tidak gampang terombang-ambing. Ketika hanya menjadi orang ikut-ikutan, pada akhirnya hidup kita akan berjalan tidak tentu arah. Saya pribadi punya prinsip dan keyakinan berdasarkan agama yang saya anut. Dalam agama saya, memang hubungan sesama jenis itu termasuk dosa besar.

Ah, tapi mungkin sebagian dari kita alergi untuk bawa-bawa agama. Kalo mau bawa-bawa agama, sebenarnya tidak cuma di agama saya saja banyak larangan. Di hampir semua agama samawi juga ada aturan tentang bersosial dan bermasyarakat. Semuanya bertujuan untuk memudahkan manusia menjalani kehidupan di dunia ini. Ibarat manual kehidupan.

Ada yang bilang, “ribet deh urusan ini itu diatur-atur agama”. Kalau anda punya kenalan atau teman orang Jerman, cobalah bertanya bagaimana kehidupan di negara mereka. Aturan-aturan Pemerintah mereka bahkan lebih ribet dan tidak fleksibel sama sekali. Bahkan untuk masalah tebang pohon saja, urusan administrasinya bermacam-macam. Cuma ya, banyak sisi positif yang bisa diambil. Walaupun ribetnya juga bukan kepalang, semuanya jadi teratur dengan baik.

Ketika saya menjadi seorang yang KONTRA, bukan berarti saya anti terhadap banci, lesbong, dsb. Mereka masih memiliki hak 100% untuk dihargai sebagai manusia. Ini sama halnya seperti saya KONTRA terhadap pelegalan prostitusi. Tapi saya tidak berhak untuk mencap pelakunya sebagai pendosa yang harus dijauhi. Mungkin saja mereka tidak seberuntung saya, yang terpaksa mengambil jalan seperti itu.

Mengambil pilihan untuk tidak menjadi seperti kebanyakan orang, memang hak setiap individu. Konsekuensinya juga berat. Saya tahu rasanya menjadi minoritas karena itulah yang saya alami saat ini. Bagaimana orang melihat dengan aneh penutup kepala saya disaat terik matahari musim panas. Atau ketika saya menjawab tidak makan babi dan minum alkohol. Tidak sedikit yang menyerngit aneh. Walaupun banyak juga yang paham, terutama teman-teman yang pernah berinteraksi dengan berbagai latar belakang negara dan budaya.

Tapi, apakah dengan dijauhi oleh orang-orang yang tidak terima dengan keadaan saya yang berbeda dengan mereka, membuat saya sedih atau bahkan berubah pikiran mengikuti mereka? Saya tidak mau menjual keyakinan saya hanya dengan alasan sesederhana itu. Toh, satu orang menjauh, saya juga dipertemukan dengan banyak saudara-saudara seiman di sini. Saya tidak pernah merasa kekurangan teman. Bahkan, masih banyak juga teman-teman non-muslim yang mau menghargai perbedaan ini. Kenapa saya harus berpusing ria memikirkan beberapa orang yang tidak cocok frekuensinya dengan saya?

Merasakan didiskriminasi? Sering sekali. Apalagi dengan penampilan aneh saya seperti ini. Tapi toh memang konsekuensinya seperti itu menjadi minoritas. Dengan begitu, saya banyak belajar bagaimana ketika saya pulang ke tanah air saya, saya bisa memperlakukan yang minoritas seperti orang-orang di sini menghargai keyakinan saya.

Ada yang bilang, hargai dong mereka yang minoritas. Emang gak boleh mereka punya hak menikah sesama mereka?

Menghargai bukan berarti ikut-ikutan mendukung apapun yang orang lain lakukan. Kenapa saya harus memaksakan diri menjadi seorang yang PRO atas sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan saya? Ada seorang teman yang tetap saja menganggap saya mengganggu keyakinan orang lain. Padahal, sah-sah saja toh saya mengungkapkan pendapat saya yang tidak setuju. Sama halnya seperti dia yang tidak setuju dengan pendapat saya. Kadang, saya merasa lucu terhadap orang yang berkoar-koar mengenai kebebasan berekspresi, tetapi mereka sendiri tidak mau dikritik.

Setiap ucapan dan perbuatan ada konsekuensinya. Itu yang saya yakini. Kenapa saya terkesan nyinyir sekali? Dalam agama saya, selemah-lemahnya iman adalah diam. Ketika bagi saya ada yang salah, saya berusaha untuk mengutarakan pandangan saya yang menurut saya benar. Tapi bukan berarti saya mencap saya paling benar, orang lain salah. Baik atau buruk seseorang sudah jadi urusan Tuhan, itupun kalo anda masih percaya Tuhan. Kalau tidak terima dengan pendapat saya, monggo saja. Disitulah dinamika bermasyarakat.

Ketika saya memilih menjadi pihak yang KONTRA, tidak setuju dengan pengesahan UU perkawinan sesama jenis, yang pertama dan juga jadi alasan utama adalah anak-anak.

Mungkin alasan ini didasari oleh karena saya sudah memiliki seorang anak. Alasan ini bisa jadi tidak akan terpikirkan oleh orang-orang yang belum memiliki anak.

Dengan adanya perkawinan sesama jenis legal secara hukum, maka mereka pun legal untuk mengadopsi anak untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Jiwa polos anak-anak, mana tahu urusan dewasa. Mereka seringkali hanya menjadi komoditi untuk kepuasan ego orang dewasa. Pada akhirnya, anak-anak yang menjadi korban. Selain itu, seperti penyakit latah, satu minta jatah, yang lainnya pun ikut-ikutan. Bisa jadi nanti para pedofilia juga minta haknya diakui.

Ada yang bilang, itu urusan orangtuanya gimana ngurus anaknya. Kalau seperti itu, saya balik pertanyaannya. Apakah rela adik/kakak atau orang-orang terdekat kita menjadi bagian dari mereka?

Saya pribadi tidak rela, oleh karenanya saya tidak mau ikut-ikutan PRO.

Ada yang bilang juga itu genetis, sudah takdir Tuhan seperti itu.

Sekarang ada istilah yang namanya “Epigenetic“. Gen-gen hanya bisa terekspresi karena ada induksi dari lingkungan. Percampuran gen-gen ibu dan bapak ke anak, tidak otomatis semua gennya terekspresi. Ibarat gembok dan kunci. Gen adalah gemboknya, sedangkan kunci adalah faktor lingkungan, entah karena pola makan, kebiasaan sehari-hari, dsb. Keduanya harus ada. Memang bisa terjadi anomali kromosom X/Y, tapi kalau orientasi suka lawan jenis atau sesama jenis, bagi saya lebih banyak dipengaruhi lingkungan. Bagaimana dia dibesarkan oleh keluarganya dan lingkungan pergaulan kesehariannya.

Jadi, tidak usahlah mencari pembenaran tentang genetik dan takdir Tuhan. Bahkan banyak orang terkenal yang mempunyai orientasi ke arah sana yang bisa berubah dan membangun keluarga layaknya pasangan pria dan wanita. Ini seperti pilihan, mau mengoptimalkan akal atau mengikuti nafsu? Kalau hanya mengikuti nafsu tanpa akal, apa bedanya kita sebagai manusia dengan makhluk ciptaan lain?

Namun, untuk perubahan ke arah yang lebih baik, pihak yang KONTRA, tidak serta merta menjadi pembenci kelompok LGBT tersebut. Seperti lirik salah satu Grup Band Indonesia, “mereka juga manusia, punya rasa punya hati”. Tidak suka dengan perilaku boleh saja, tetapi jangan sampai kita menjadi pihak yang mendiskriminasi orang lain.

Saya menulis seperti ini, memang tidak serta merta yang pro bisa berubah jadi kontra. Itu kembali lagi ke pilihan kita masing-masing. Jika kita sadar sepenuhnya atas resiko dari keputusan yang kita ambil, lanjutkan gan, sist!

Your life is yours, my life is mine. 🙂

Salam hangat,

ttd1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s