Si bayi biru.

Beberapa bulan yang lalu, saya melihat status seseorang di facebook yang dibagi-ulang (red: share) oleh orang-orang hingga sampailah di halaman depan facebook saya. Sebutlah namanya si Mawar. Intinya Mawar ingin bunuh diri karena tidak kuat menghadapi si bayi biru aka “baby blue syndrome” yang berubah menjadi monster pasca melahirkan (red: post partum depression). Saya tidak tahu bagaimana nasibnya saat ini. Semoga Mawar baik-baik saja dan ada seseorang yang bisa menolongnya.

 

photo-1457932155913-ac4695f3edd1
Image credit: Sarah Graybeal (unsplash.com)

Bagi saya yang juga pernah melahirkan, sindrom si bayi biru (SBB) memang ada dan saya mungkin hampir masuk ke tahap berikutnya yaitu sindrom depresi pasca melahirkan (DPM). Sebagian psikiater menggolongkan DPM ini sebagai penyakit. Pasti selalu ada pro dan kontra disini. Namun, saya ingin bercerita menurut pengalaman saya sendiri dan semoga bisa membantu meringankan beban pikiran ibu-ibu hamil yang seringkali cemas atas segala hal.

Si bayi biru (SBB) dan depresi pasca melahirkan (DPM) bukan penyakit.

Baik SBB dan DPM—bagi saya—kedua hal tersebut bukanlah penyakit. Semua ibu di dunia ini pasti menjadi sangat-sangat lebih sensitif pasca melahirkan dibanding sebelumnya. Ada yang jadi manja banged waktu hamil (contohnya saya). Tanyakanlah kepada para bapak-bapak yang nan sabar, bagaimana menghadapi para ibu-ibu jenis ini. Tapi, ada juga ibu hamil yang cuek-cuek saja, bahkan tidak tahu kalau sedang hamil.

Sensitivitas ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi dia dibutuhkan untuk menumbuhkan jiwa keibuannya sehingga peka terhadap sang bayi. Di sisi lain, sang ibu menjadi sosok yang mengerikan karena terlalu mencemaskan banyak hal. Tentu saja membuat pusing semua orang terutama sang suami.

Takaran sensitivitas tersebut sangat tergantung pada kepribadian si ibu masing-masing. Kepribadian ini pun terbentuk atas akumulasi didikan sejak kecil, lingkungan dan pendidikannya. Pria cenderung bersifat lebih cuek dibanding wanita. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada beberapa pria yang sensitivitasnya sama seperti halnya wanita.

Jadi, jangan heran jika ibu-ibu identik dengan istilah cerewet, gampang tersinggung, dsb. Namun, sebagai seorang yang sudah dewasa, mulailah belajar mengontrol efek-efek negatif tersebut. Coba posisikan diri kita sebagai anak yang dicereweti oleh ibu atau bayangkan saat-saat dulu kita bertengkar dengan ibu kita yang senang mencemaskan banyak hal. Tentu saja tidak enak. Jadi sensitivitas kita sebagai seorang wanita tidak bisa menjadi alasan untuk menyakiti hati orang lain.

Mereka bukan Monster yang harus ditakuti.

Satu hal juga, saya tidak setuju dengan Mawar yang mengaitkan bahwa si DPM muncul akibat ada monster di dalam tubuhnya. Bukan, itu dirimu sendiri yang berubah bukan kepribadianmu yang menjadi dua! Hormon di dalam tubuhmu yang mengubah kepribadianmu.

Yang saya rasakan, saya dengan kepribadian introvert cenderung lebih sensitif menerima respon dari lingkungan. Terlebih ketika hamil, sensitivitas ini seakan naik ke level paling tinggi.

“Jika itu bukan penyakit bukan pula monster, lalu apakah harus aku biarkan saja? Tidak. Apa harus dilawan? Tidak juga. Terus, aku harus ngapain dong?” 

Belajarlah untuk berdamai dengan dirimu sendiri. Berat memang, itulah yang saya rasakan untuk pulih dari dua hal tersebut. Jujur saja, saya lebih mencintai ibu saya bukan karena sakitnya melahirkan tetapi karena saya terbayang bagaimana ibu saya berjuang seorang diri menghadapi trauma pasca persalinan sampai enam kali.

Seorang psikolog terkenal dari Havard University, Kelly McGonigal mengatakan bahwa kita bisa menjadi lebih produktif ketika sedang stress dengan menjadikan kondisi stress kita sebagai teman pemicu adrenalin kita. Intinya sama, berdamai dengan masalah.

Bagaimanapun juga, perubahan hormon-hormon di dalam tubuh seorang ibu hamil sangat membantu si ibu untuk bisa belajar menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya. Tinggal bagaimana kita bisa mengenali potensi kita sebagai seorang ibu dan memanfaatkannya untuk mendidik anak-anak kita.

“Bagaimana caranya?”

Banyaklah mencari informasi dan gunakan insting kita sebagai ibu untuk menyaring informasi tersebut. Karena tidak semua informasi-informasi yang kita dapatkan bisa sesuai dengan kebutuhan keluarga kita. Setiap keluarga itu unik.

Jadilah diri sendiri, tapi belajarlah menjadi ibu terbaik untuk anak-anak kita.

Beberapa literatur yang saya baca, melahirkan secara normal, menyusui bayi, tidur bersama bayi bisa mengurangi si SBB. Tapi, ketika beberapa ibu-ibu seperti saya melakukan semua hal di atas, tetap saja mengalami si SBB. Di lain pihak, ada juga ibu-ibu yang melahirkan caesar, tidak memberi ASI eksklusif, tidur terpisah dengan anaknya, tidak mengalami si SBB.

Kini saya sadar, aktivitas-aktivitas tersebut sebenarnya bertujuan untuk membuat si ibu percaya pada dirinya sendiri dan merasa berguna sebagai seorang ibu. Sesederhana itu saja. Jadi sebenarnya, ketika si ibu Pe-De dengan dirinya akan mengurangi resiko terkena SBB dan DPM.

Namun, kepercayaan diri tersebut adakalanya butuh dukungan banyak dari lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, setiap orang butuh orang lain. Ketika kita menghadapi problema si SBB bahkan DPM, segera cari bantuan. Paling ideal adalah sang suami mau mendengarkan keluhan istrinya.

Selain itu, apesnya tanpa kita sadari, kita bisa saja berada di lingkungan yang tidak sejalan dengan pikiran kita atau kita dikelilingi oleh orang-orang yang kerjaannya cuma menurunkan kepercayaan diri kita. Kasarnya, kita hanya menjadi seorang pecundang.

Lucunya, banyak diantara ibu-ibu yang saling berkompetisi secara tidak sehat. Mereka membanding-bandingkan diri mereka atau anak-anak mereka, siapa yang paling hebat. Sangat jarang ada orang yang bisa berempati dengan tulus dan mengerti perasaan seorang ibu, walaupun orang tersebut juga seorang ibu. Setiap ibu pasti memiliki masalah keluarga dan memiliki anak dengan potensinya masing-masing.

Solusinya? Jika kita tidak sanggup untuk membentengi diri kita sendiri dari pengaruh negatif lingkungan, hindarilah lingkungan yang membuat kita semakin depresi. Carilah komunitas yang bisa mendukung kita. Kita layak untuk bahagia dan hanya diri kita yang bisa membuat kita bahagia! Gak usah menyusahkan diri kita memikirkan perkataan orang-orang.

Ketika kita naik pesawat, sang pramugari selalu memberikan instruksi keselamatan. Jika kita bepergian bersama anak, yang paling pertama harus dilakukan di situasi darurat adalah selamatkan diri kita terlebih dahulu baru setelah itu anak kita. Jadi, jangan menjadikan diri kita sebagai korban atas keculasan orang-orang yang tidak punya hati tersebut. Kita sendirilah yang harus bangkit sehingga kita bisa menyelamatkan masa depan anak-anak kita.

Sebuah refleksi masa depan.

Bagi saya yang merasakan tidak enaknya melewati si SBB tersebut, memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga buat saya menjadi orangtua. Ketika nanti saatnya saya dikaruniai anak perempuan, saya tidak akan mengajarkan dia menjadi seorang yang perfeksionis.

Yang menjadi tradisi di masyarakat Indonesia pada umumnya adalah anak perempuan dididik harus menjadi seorang yang cantik, bersih dan harus bisa mengurus rumah tangga. Sedangkan anak laki-laki dibiarkan di luar rumah melakukan sesuka hati mereka tanpa tahu menahu (red: peduli) dengan urusan rumah tangga.

Kecantikan dan keterampilan di dapur bukanlah segala-galanya.  Memang dua hal itu penting. Tapi keduanya bisa menjadi bumerang ketika diterapkan kepada anak yang dididik dengan fixed mindset. Kebanyakan dari kita diajarkan dengan pola pikir seperti ini, yang mana keterampilan hanya buah dari bakat.

Ajarkan anak-anak tumbuh dengan pola pikir terbuka (red: growth mindset) dimana setiap orang diberi kesempatan untuk belajar terus sepanjang hidupnya. Hilangkan stereotype perempuan harus di dapur dan tabu untuk anak laki-laki membantu pekerjaan istri di dapur. Semua ini dimulai dari bagaimana kita menunjukkan keseharian kita dan interaksi kita dengan pasangan di depan anak-anak kita.

Sebagai penutup, anak-anak yang bahagia bukan karena orangtuanya memberikan segala apa yang mereka inginkan. Namun, anak-anak bisa bahagia karena kedua orangtuanya pun bahagia. 🙂

ttd1

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s