Berhenti mencap anakmu.

“Ayah keluar” teriak Alta berkali-kali.

Aku yang sedang mengetik revisi thesis di kamar berhenti sejenak mendengarkan.

“Lepas…lepas…abang mau sama bunda…” raungan Alta semakin menjadi.

Akhirnya akupun keluar kamar menemui suami dan anakku yang sedang bertengkar. Ketika melihatku, Alta langsung menghambur kedekapanku sambil menangis terisak-isak.

Aku tahu anakku mengamuk seperti orang kesetanan mungkin karena dia kecapekan bermain di luar. Mereka baru pulang bermain dari Spielplatz (red: taman bermain) di dekat rumah. Suamiku pun menjelaskan duduk perkaranya.

“Ayah ngajak abang cuci tangan. Awalnya dia gak mau. Jadi seperti biasa, dia dikasih pilihan 2 jenis sabun, sabun dia atau sabun kita. Setelah beragumen dan bernegosiasi akhirnya dia milih pake sabun dia untuk cuci tangan.” ujar suamiku, “Tapi, ketika dia sadar sudah cuci tangan, tiba-tiba dia ngamuk dan marah-marah sama Ayah”.


 

Tidak sekali dua kali Alta seperti itu. Orang mengenali keadaan anak mengamuk-amuk seperti kesetanan sebagai “tantrum”. Sebenarnya, amukan Alta tidak sampai disitu. Dia akan bertahan marah-marah sampai hampir 30 menit lamanya. Kadang lelah juga menghadapinya. Apalagi jika dalam kondisi sedang banyak pikiran, akhirnya saya pun ikut memarahinya balik.

Ketika Senin lalu ke dokter anak (kebetulan dokter anak kami orang Indonesia) untuk check-up rutin, saya diberi isian kuesioner mengenai perkembangan Alta. Dengan kemampuan Bahasa Jerman yang seadanya dan mengandalkan Google Translate di HP, saya mencoba mengisinya. Disini akhirnya saya tahu ada juga istilah “tantrum” dalam bahasa Jerman, yaitu “Wutanfall“. Jadilah saya curhat sama si Ibu Dokter mengenai masalah Alta yang suka marah-marah di rumah. Setelah berdiskusi, akhirnya si Ibu Dokter menyarankan untuk membuat Besprechungszeit (red: jadwal konsultasi) dengannya, berhubung beliau juga Psikoterapi anak-anak. Namun, sebelum itu, kita diminta untuk menyampaikan kuesioner yang harus diisi juga oleh guru di TK Alta.

Tidak sedikit orangtua yang akhirnya menganggap anaknya memang keras kepala, pembangkang, bahkan mencap anaknya sebagai anak yang nakal.

Saya tahu bahwa tidak boleh mencap negatif anak karena bisa jadi itu menjadi doa untuk si anak. Tapi, saya yang seringkali kewalahan menghadapi Alta jika sudah mengamuk, kadang terlintas pikiran-pikiran negatif seperti itu.


Jumat pagi ketika mengantar Alta ke sekolah, saya menemui gurunya untuk memberikan kuesioner dari Dokter. Ketika saya menyerahkan kuesioner itu dan menjelaskan perihal kuesioner tersebut, saya pun terkejut dengan reaksi guru Alta. Awalnya saya berpikir, gurunya akan mengiyakan kalau Alta memang anak yang susah diatur, dsb.

Diluar dugaan, gurunya malah balik bertanya, “kenapa Alta perlu dibawa terapi? Bagi saya dia normal koq. Alta hanya perlu waktu menyesuaikan diri di sini, berhubung disini ada 20 orang anak dan dia termasuk yang paling kecil,” ujar gurunya.

(Percakapan berlangsung dalam bahasa Jerman dengan jawaban saya yang juga dalam bahasa Jerman tapi amburadul hehe)

Sorenya, ketika saya menjemput pulang Alta, kami pun berdiskusi lebih lanjut. Kuesioner itu pun sudah selesai diisi.

“Saya isi berdua dengan guru yang lain dan kami pun setuju untuk mencontreng 0 (nol) yang artinya tidak ada masalah yang cukup berarti terhadap Alta. Walaupun memang kadang-kadang dia terlihat ada masalah, tapi bagi kami berdua, memang fasenya seperti itu,” jelas gurunya kepada saya, “bahkan saya menulis di kolom komentar bahwa Alta bisa berkomunikasi dalam dua bahasa, ramah terhadap yang lain, dan bisa mandiri (seperti mencuci tangan sendiri, ganti baju, dsb). Jadi bagi saya pribadi dia anak yang hebat.”

IMG_1939

Mendengar penjelasan gurunya, saya pun akhirnya tersadar. Mungkin saya yang sudah mencap jelek anak saya sendiri. Padahal jika berkaca, bisa jadi Alta yang bertingkah “menyebalkan” di rumah karena saya dan suami yang sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing.

“Memang kadang dia suka mengeluh sakit, tapi ketika dia dipeluk dan diusap, dia menjadi tenang. Dia hanya butuh perhatian,” lanjut gurunya di sela lamunan saya.

“Ya, mungkin karena saya tiga bulan ini terlalu sibuk dengan thesis saya, jadi waktu bermain saya dengannya pun sangat berkurang drastis,” ujar saya menambahkan.

“Bagus jika kamu mengetahuinya. Disini karena dia yang paling kecil, jadi dianggap adik sama teman-temannya yang lain. Yang lainnya pun lebih banyak mengalah dengannya. Jadi ya, berdrama sedikitlah di rumah kalau dia curhat sesuatu,” sambung gurunya mencairkan suasana.

Selesai mengobrol dengan gurunya, saya pun berjalan mendekati Alta yang sedang bermain dengan teman-temannya yang lain. Ketika saya panggil, Alta langsung menghambur dan memeluk saya. Saya pun memeluknya seerat mungkin dan menciumnya.

Kadang kita lupa mengapresiasi kebaikan-kebaikan kecil yang sudah dilakukan anak kita. Kita hanya terfokuskan pada hal-hal yang kita anggap buruk di mata kita dan berusaha sekuat tenaga untuk mengkoreksinya. Tapi kita lupa berkaca, apakah ada andil kita dari perilaku buruk tersebut. Yang seharusnya dikoreksi adalah diri kita sendiri, sebelum mengkoreksi anak kita.

 

photo-1445633743309-b60418bedbf2
Image credit: London Scout (unsplash.com)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s