Itu tidak adil diperbandingkan.

“Jika dibandingkan dengan teman-teman jerman kalian, kalian tidak bisa saya luluskan pre-tes untuk bisa ikut praktikum…”

Begitulah sekelabat ucapan asisten praktikum menilai kemampuan pemahaman saya dan teman saya. Ada satu mata kuliah yang mewajibkan pre-tes terlebih dahulu sebelum bisa ikut praktikum di lab mereka. Namun, kami gagal.

Memang benar kami tidak mempersiapkan diri dengan matang. Tetapi, yang membuat ucapan sang asisten menjadi sangat menyebalkan adalah perkataannya yang membanding-bandingkan kami dengan mahasiswa Jerman disini. Bagi saya si asisten tidak adil membandingkan kami dengan teman-teman kami. Kenapa? Pertama, karena mata kuliah S2 yang kita ikuti, mereka sudah mendapatkannya ketika mereka S1. Jadi istilahnya, mereka kuliah S2 hanya seperti pengulangan. Tentu saja mereka lebih paham dan lebih mengerti cara kerja instrumentasi yang ada di Lab mereka. Kedua, sebagai mahasiswa dari negara berkembang, saya mana tahu cara kerja alat canggih tersebut secara detail, megang alatnya aja belum pernah, hehe. Jadi ya, gak Apple-to-Apple aja ngebandingin saya dan teman saya dengan teman-teman Jerman disini. Gak adil, bro!

Tapi, selama saya menempuh kuliah S2 di Jerman, tidak satu dua kali saya menerima perlakuan dibanding-bandingkan seperti itu. Lama-lama saya kebal juga. Dan saya akhirnya mikir, dibanding-bandingin itu emang gak enak loh! Sakitnya tuh disini (sambil nunjuk dada, hehe).

Eits, tunggu dulu. Itu hanya dilakukan oleh segelintir orang, tidak semua orang Jerman seperti itu. Saya juga banyak menemukan orang yang berpendidikan baik dan bermoral malaikat disini.

Ketika saya merefleksikan sakit hati itu, saya menyadari satu hal. Mungkin selama hidup saya, saya juga sudah banyak membanding-bandingkan orang dan suatu hal yang sebenarnya tidak bisa dibandingkan. Dan saya merasa menyesal karena mungkin sudah banyak orang yang tersakiti dengan ucapan saya tersebut.

Entah sadar atau tidak, membanding-bandingkan sesuatu sudah menjadi hal lumrah. Ini terjadi karena adanya ekspektasi tinggi terhadap sesuatu. Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah jauh dari ekpektasi/harapan yang diinginkan. Akhirnya perasaan kekecewaan mendorong seseorang untuk membanding-bandingkan kondisi ideal/contoh lain yang terlihat lebih bagus dengan hasil kekecewaannya.

Contohnya, seseorang yang merasa kecewa dengan apa-apa yang dilakukan pemerintah kita, misalnya Presiden Jokowi. Kemudian, dia melihat ada contoh pemerintahan lain yang menurut dia sangat ideal, seperti Presiden Erdogan di Turki. Mulailah otaknya membanding-bandingkan sistem pemerintahan Indonesia dan Turki. Yang satu digambarkan sebagai kondisi sangat buruk dan harus ada revolusi. Yang satunya sebagai kondisi paling ideal dan menjadi idaman. Padahal situasi di Indonesia dan di Turki bisa jadi berbeda total, baik secara kultur dan kehidupan masyarakatnya.

Biasanya yang terjadi adalah rumput tetangga terlihat lebih hijau. Kelihatannya aja dari luar yang WOW, tapi mungkin saja ketika kita hidup di Turki, pandangan kita bisa berubah 180°. Itu yang terjadi dengan saya ketika menjalani 2 tahun di Jerman. Yang saya pelajari adalah tidak hanya ada satu cerita untuk sebuah negara/bangsa. Yang membuatnya hanya menjadi hitam atau putih adalah tugas media massa.

Jadilah kita terlena dengan manipulasi keindahan sebuah tempat yang dikategorikan sebagai negara maju dan image ketidakberdayaan negara berkembang/tertinggal dengan serba kekurangannya. Padahal kemanapun kaki ini melangkah, saya pasti akan menemukan sisi positif yang bisa saya ambil, dan juga sisi negatif yang menjadi pembelajaran tak terlupakan untuk kedewasaan.

Akhirnya saya bertekad untuk merubah mindset “membanding-bandingkan” tersebut. Saya tidak mau membandingkan-bandingkan apakah enak hidup di Jerman atau di Indonesia. Bagi saya, dengan segala kekurangannya saya lebih nyaman hidup di negara sendiri. Saya juga belajar untuk tidak membanding-bandingkan sistem pendidikan di Jerman dan di Indonesia dalam konteks yang satu jelek dan yang satunya sangat ideal. Mengingat saya kuliah, anak saya pun mau-tidak-mau harus di sekolahkan juga. Jadi, saya juga berusaha untuk menyingkirkan pertanyaan perbandingan, apakah lebih enak guru TK di Jerman atau di Indonesia.

Saya banyak belajar bahwa di segala hal tidak akan pernah terjadi suatu kondisi ideal seperti yang kita harapkan. Saya belajar untuk mengambil yang baik-baiknya agar bisa saya terapkan di keluarga dan membuang yang buruk-buruknya, tapi saya bisa menjadikannya sebagai pengalaman berharga.

Dalam lingkup yang lebih kecil seperti keluarga, saya pun harus banyak belajar berbenah diri. Saya belajar untuk menahan diri membandingkan Alta dengan teman-temannya di sekolahnya atau dengan anak-anak Indonesia lain disini. Yang paling riskan juga adalah saya belajar untuk tidak membandingkan suami saya dengan suami-suami lain, hehe. Saya belajar bahwa setiap individu diciptakan oleh Tuhan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tinggal bagaimana kita mampu mengoptimalkan potensi yang ada menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk kita dan juga orang lain.

Jika memang ada kekurangan yang terlihat, mari kita bersama-sama bahu-membahu memperbaiki kekurangan itu dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan. Contohnya, satu hal negatif dari didikan tradisi Indonesia adalah banyak anak laki-laki tidak pernah sama sekali ikut campur urusan dapur. Ketika awal-awal menikah dan suami saya belajar memasak dari nol, dapur kami sudah seperti kapal pecah. Tapi kami punya satu misi, yaitu “Gotong-Royong”. Jadi, saya belajar untuk menjadi guru yang harus sangat bersabar extra mengajari seseorang yang tidak tahu apa-apa. Saya juga belajar untuk menahan diri ketika hasil masakan pertama suami saya rasanya jauh dari standard saya.Semua butuh proses.

Namun, pada akhirnya saya bisa menikmati hasilnya. Sekarang ketika saya harus kuliah sambil mengurus anak, kerjaan rumah menjadi tanggungjawab kami berdua. Ketika saya harus pulang malam dari Lab, makan malam sudah tersedia di meja, Alta juga sudah wangi dimandikan bapaknya. Bisa dibilang beban saya sebagai istri, ibu dan mahasiswa menjadi sangat lebih ringan dengan adanya bantuan suami saya. Daripada di awal energi saya habis dengan membandingkan suami saya dengan suami-suami lain, mendingan energi tersebut saya pakai untuk bisa fokus membantunya belajar dalam memperbaiki kekurangannya dengan kelebihan yang saya miliki. Begitupun juga dia yang mengajari saya memperbaiki kekurangan saya dengan kelebihan yang dia miliki.

Seorang senior saya dulu pernah bilang sama saya, bahwa setiap orang itu unik. Saya makin percaya hal itu. Bahkan saya patrikan dalam hati, bahwa setiap negara itu pun unik. Memang mudah melihat kekurangan dibanding mencari kebaikan yang tersembunyi. Seperti kata pepatah “Semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak”.

photo-1444988510113-d8e9c6741202

Jadi, berhentilah membanding-bandingkan yang ada di Indonesia dengan kamuflase keindahan negara lain! Apalagi di satu sisi mengelu-elukan negara lain, tapi mendiskreditkan Indonesia sebagai bangsa yang bobrok. Lebih baik, berbuat sesuatu yang baik walaupun itu kecil. Ketika banyak orang Indonesia yang konsisten berkarya di bidangnya, saya yakin suatu saat nanti Indonesia tidak kalah dengan Jerman sekalipun. Selain itu, ketika kita berhenti melakukan perbandingan tidak sehat ini, secara tidak langsung kita juga menjaga kesehatan hati dan jiwa kita sendiri. 😀

ttd1

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s