Lagi-lagi tentang Cinta.

Kata orang, cinta itu butuh pengorbanan. Tapi bagi saya, kalimat ini bisa menyesatkan. Kenapa? Bisa jadi, karena seseorang mengorbankan segalanya demi cinta, cintanya menjadi tidak lagi tulus. Kasarnya kayak gini, nih gw udah berkorban banyak untuk lw, tapi lw koq gak mau ngebales cinta gw?

Sebuah cinta bisa kita tujukan ke siapa aja, entah itu cinta terhadap lawan jenis, cinta kepada keluarga, cinta kepada teman karena persahabatan, bahkan cinta kepada orang yang tidak dikenal sekalipun.

Saya dan suami saya punya satu pandangan hidup, bahwa kebahagiaan sejati itu adalah ketika kita bisa membagi kebahagiaan kita kepada orang lain. Menebarkan cinta dan kasih sayang.

Kata orang lagi, cinta ibu itu sepanjang masa. Namun, pada kenyataannya, banyak para orangtua yang berharap agar anaknya berbakti padanya. Mungkin kata ‘berbakti’ ini sensitif sekali. Tiap orang mempunyai pendapat dan deskripsinya masing-masing. Tapi, bagi saya, ketika kata ‘berbakti’ ini ditujukan agar anak menurut buta terhadap apa yang kita perintah, baik atau buruk, kata ‘berbakti’ itu seperti kehilangan makna. Tidakkah itu seperti mencintai anak dengan mengharapkan balik anak itu mencintai kita seperti kita mencintainya? Mungkin kita perlu mengintrospeksi diri, apakah kita tulus mencintai seperti itu?

Sebagai seorang ibu, tentu saya juga ingin anak saya menjadi anak yang berbakti. Tapi, jangan sampai kita membebani anak kita dengan kata ‘berbakti’ tersebut. Sekalinya anak berbuat kesalahan, kita seperti lupa akan kebaikan-kebaikannya. Ini pun berlaku untuk pasangan kita, keluarga dan bahkan teman-teman kita.

Belajar mencintai dengan tulus itu susah-susah gampang, walaupun banyak susahnya, hehe. Tapi, ketika kita bisa memberikan cinta kita tanpa berharap timbal balik, maka kita pun bisa berbahagia dengan melihat kebahagiaan yang kita beri kepada orang sekitar kita. Ibaratnya seperti membuang BAB. Abis selesai, pasti plong banged kan? Kalo ditahan-tahan sudah pasti gak baik buat kesehatan kita sendiri. Nah, seperti itu lah seharusnya kita mengapresiasikan cinta. Ketika kita tidak bisa mencintai dengan tulus, pada akhirnya hanya kekecewaan saja yang tersisa.

Seperti kata Kahlil Gibran, anak itu seperti busur panah. Kita harus menyiapkan busur yang baik: menjadi orangtua yang juga berbakti. Sehingga ketika pada saatnya mereka dewasa dan siap dilepas, anak panah itu bisa melesat tajam pada tujuannya. Yaitu, menebarkan cinta kita yang kita tanamkan dan berbagi kasih sayang dengan orang-orang sekitar mereka.

Tulisan ini mengingatkan saya kepada kedua orangtua saya. Walaupun saya tahu ada kecemasan yang sangat dalam di hati ayah saya melepas anak perempuannya dulu ketika pergi ke luar negeri seorang diri. Tapi, beliau hanya menitipkan pesan, ingat sholat dan jaga diri baik-baik. Pun ibu saya yang selalu memberikan senyum penyemangatnya. Tanpa keikhlasan hati mereka berdua, tidaklah mungkin saya bisa sampai sejauh ini mengejar mimpi-mimpi saya.

papa mama

Cinta yang tulus itu mereka berikan, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa dari saya yang belum bisa berbuat banyak untuk mereka. Hanya doa-doa setiap sholat yang selalu saya lantunkan dan ucapan rindu yang saya titipkan melalui Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu betapa saya pun mencintai mereka berdua.

ttd1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s