Kisah Sang Matahari.

20 Juni 2013.

Dokter mendiagnosa Alta terkena atopic dermatitis infant atau yang umum disebut eczema (red: eksim). Aku tidak bisa membendung air mata menerima vonis tersebut. Apakah anakku akan menjadi seorang yang buruk rupa seumur hidup? Orang-orang menganggapku lebay, terlalu berlebihan.

20130701_134832

Mereka bilang, itu hanya alergi biasa yang umum terjadi pada anak kecil sehabis dikerok rambutnya. Sebuah tradisi akikahan yang memang tidak pernah ada dalil rambut anak harus dicukur habis. Tapi, adakah seorang ibu yang tahan melihat anaknya menangis kesakitan setiap hari menahan gatal yang luar biasa. Tidak adakah yang percaya kekuatan dari naluri seorang ibu? Mungkin mereka menganggap aku masih seperti bocah ingusan dan belum pantas menyandang titel seorang ibu.

29 Maret 2014.

Hari ini Alta panas tinggi. Perjalanan panjang melewati udara antara Jakarta dan Frankfurt dua hari yang lalu memang sangat melelahkan, apalagi untuk anak seumurannya. Alta masih terbilang bayi, 9 bulan. Dia pun sempat muntah-muntah. Aku jadi berpikir, apakah keputusanku salah membawa Alta? Apakah aku terlalu memaksakan kehendakku dan bertindak egois. Aku hanya takut salah mengambil keputusan lagi dan Alta yang menjadi korban.

20140330_083041

Alta terus-terusan menangis. Aku tahu dia lelah, aku pun lelah dan tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya aku pun ikut menangis. Begitu gampangnya diriku menangis sejak menjadi seorang ibu. Aku mencoba mengobrol dengannya, “Abang, bunda tahu abang capek, bunda juga capek. Tapi kita disini di Jerman hanya berdua. Bunda sedih ngeliat abang muntah-muntah. Abang sekarang istirahat ya, bunda juga mau istirahat. Besok kita main-main lagi.” Ajaibnya, dia berhenti menangis, seolah dia mengerti perkataanku. Setelah aku usap-usap dia pun tertidur pulas.

26 Juli 2016.

Akhirnya satu perjuangan itu bisa terlewati juga. Dua minggu lalu aku menyerahkan laporan Master thesisku. Hari ini aku pun tuntas mempresentasikan hasil kerja di depan Profesor. Tugasku sebagai mahasiswa selesai sudah. Aku mengucap syukur yang tiada hentinya. Yang aku lalukan hanya ingin mendekap erat Alta. Aku mengingat kembali hari-hari pertamaku di Jerman. Ah, perjuanganku ini tidak ada artinya tanpa si Matahari kecilku. Dia yang selalu menemaniku baik suka dan duka.

Hal-hal yang terjadi menimpa kami baik dan buruk memang sudah digoreskan seperti itu. Mungkin jika pada saat itu Alta tidak divonis terkena eczema, aku tidak akan nekat membawanya. Sang matahari kecil inilah yang menguatkan diriku melewati hari-hari berat di sini. Dia menjadi motivasiku untuk menunjukkan bahwa seorang perempuan tidak harus menyerahkan mimpinya karena alasan anak. Karena itulah yang terjadi pada seorang perempuan, 27 tahun yang lalu. Perempuan itu adalah ibuku. Tekanan sosial dari orang-orang sekitar menyebabkannya harus merelakan mimpinya saat itu dan aku tahu dari matanya ada rasa penyesalan yang sangat dalam. Hal ini pula lah yang menjadi motivasiku. Aku ingin menunjukkan padanya, “Ma, pengorbananmu tidak ada yang sia-sia. Engkau yang telah mendidikku menjadi seperti ini”.

01 Agustus 2016.

Kehadiran Alta, sang Matahari, mengajarkanku banyak hal. Menjadi seorang ibu, memaksaku untuk tegas pada diriku sendiri. Aku saat ini tidak hanya bertanggungjawab terhadap diriku sendiri, tetapi juga anakku. Seringkali kita terlalu banyak diganggu oleh omongan orang-orang di sekitar kita. Sampai-sampai kita tidak bisa mengambil keputusan dengan kepala yang jernih, apa yang baik dan buruk untuk diri kita sendiri.

Lucunya, di dunia ini, kita akan pasti selalu menemui orang-orang yang menganggap dirinya Raja/Ratu yang berhak mengatur-atur hidup orang lain seenaknya. Diam salah, melawan pun salah. Kata-kata tidak cukup untuk membungkam orang-orang seperti itu.

Menjadi diri sendiri (red: assertive) adalah solusi yang paling baik menurutku. Kata orang, adakalanya pura-pura menjadi tuli baik untuk kesehatan kita dan aku sudah  beberapa kali mencoba mempraktekkannya. Setidaknya aku bisa menikmati hidupku lebih baik. Karena ketika keputusan itu datang dari alam bawah sadarku sendiri, aku sudah siap dengan segala resiko yang terjadi.

Aku tahu bahwa kuliah sembari mengasuh anak bukanlah hal yang mudah. Namun, segala resiko yang terburuk sudah terbayang di benakku karena itulah adrenalinku bergemuruh. Aku ingin membuktikan bahwa anggapan mereka tidak bisa sepenuhnya dikatakan benar. Anak bukanlah sebuah penghalang. Namun, stereotype-stereotype yang sudah terbentuk di masyarakat yang menjadikan hal itu sebagai penghalang utama. Beruntungnya, aku didampingi suami yang mendukung mimpi-mimpiku agar tidak hanya menjadi mimpi di siang bolong.

Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi bagiku sebuah kebenaran yang dipaksakan hanya akan menjadi keburukan. Biarkan seorang anak manusia memilih apa yang menurutnya paling baik untuk dirinya. Tugas kita sebagai manusia, bukan menjadi seorang pendakwa, tetapi bisa saling berempati dan mendukung satu sama lain. Bukankah itu inti dari ajaran agama? Yaitu perdamaian. Biarkanlah seorang ibu memilih apakah dia ingin menjadi ibu rumah tangga atau ibu yang bekerja. Karena pada akhirnya dia tetaplah seorang ibu bagi anak-anaknya.

IMG_2658

EPILOG.

Dua bulan yang lalu, musim panas yang seharusnya datang malah menjadi musim semi. Bunga-bunga baru mulai bermekaran, begitu pun serbuk sarinya ikut berterbangan dan berdansa menyambut matahari. Suamiku pulang dengan wajahnya yang memerah. Bukan karena malu atau habis ditonjok orang. “I hate polen” ujarnya. Polen disini maksudnya serbuk sari. Lagi-lagi penyakit yang bernama alergi itu menguji kesabaranku. Sejak itu kami pun tahu bahwa, penyakit alergi yang menimpa Alta 3 tahun yang lalu memang tidak lain karena kami berdua membawa genetisnya. Penyebab kambuhnya alergi tersebut bisa apa saja dan masing-masing dari kami berbeda faktor pencetusnya. Yah, terima nasib sajalah, hehe.

ttd1

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. sandia primeia says:

    Aaack, sama, Ira! Sama-sama ortu yg menurunkan alergi (uhuhuuu) dan sama Ibu teteh juga merelakan mimpinya lanjut sekolah karena si anak satu ini sakit terus. Jadi merasa bersalah pisan ke ibu. Tapinya beliau jadi dukung mimpi anaknya ini.

    Sehat selalu, Altaaa! :*

  2. Ruma[h]Rara says:

    Peluuukkkan yuk teh! hihi… mudah2an lancar persiapan S3 nya ya teh…insha Allah nanti menemukan banyak orang2 yang juga senasib seperjuangan di negeri orang. :-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s