Bagaimana Ibuku Lepas dari Postpartum Depression?

Bagiku, ibuku adalah ibu pejuang seperti ibu-ibu lainnya. Ibuku mendedikasikan dirinya sebagai ibu rumah tangga membesarkan enam orang anak perempuannya. Yang aku sadari kini adalah ibuku sempat memiliki banyak luka yang harus dipendamnya sendiri tanpa tahu kemana harus meminta pertolongan kepada siapa. Cerita ini tidak bermaksud untuk menyalahkan siapa pun. Cerita ini aku dedikasikan untuk ibuku yang pernah berjuang menghadapi Postpartum Depression yang dialaminya mungkin sampai enam kali dan ibu-ibu lainnya yang pernah mengalami hal yang serupa. Bagi yang belum tahu apa itu Postpartum Depression, mungkin bisa merujuk ke bacaan ini (Klinik WordPress, 2007) terlebih dahulu.

alnqdp3b3yu-naomi-august

Aku masih ingat cerita ibu ketika dipinang oleh ayah. Saat itu ibu masih menjalani kuliah D3-nya. Tak lama setelah menikah, ibu hamil dan melahirkan kakakku yang pertama. Namun, siapa sangka Allah memberinya rejeki anak yang lahir berderet sampai anak ketiga (yaitu aku sendiri). Umur kami bertiga hanya berselang 1.5 tahun. Setelah cuti kuliah bertahun-tahun, ibu berniat ingin menyelesaikan kuliahnya. Apa dikata, seperti kebanyakan perempuan lain pada waktu itu, banyak sanak keluarga yang tidak mendukung. Inti dari larangan mereka adalah “Buat apa sekolah lagi, lebih baik mengurus anak di rumah daripada anak terbengkalai. Lagipula kewajiban seorang perempuan adalah berada di dapur sehingga tidak perlu menuntut ilmu tinggi-tinggi”.

Pada saat yang bersamaan ayah harus meninggalkan ibu dan kami bertiga untuk melanjutkan sekolah S2-nya di Australia. Tekanan-tekanan sosial inilah yang menjadikan ibu terpaksa mengubur mimpinya saat itu. Ibu sempat bercerita bagaimana beliau sangat menyesal tidak menyelesaikan kuliahnya dan banyak penyesalan-penyesalan lainnya.

Pada awalnya aku tidak tahu-menahu mengenai istilah Postpartum Depression yang bisa menimpa seorang ibu pasca melahirkan. Aku mengetahuinya setelah aku pun memiliki anak. Aku baru belajar bagaimana beratnya menjalani hari-hari menjadi seorang ibu pasca melahirkan, apalagi jika tidak ada dukungan yang positif dari keluarga. Aku masih beruntung, suamiku mau belajar memahami perubahan emosiku selama hamil. Aku baru tahu bahwa hormon-hormon tubuh kita pun berubah ketika kita hamil sebagai persiapan menyambut kelahiran sang bayi. Aku pun baru sadar bahwa hormon-hormon tersebut bisa mengubah drastis kepribadian seorang wanita.

Banyak orang yang mungkin berpikir bahwa untuk mengobati Postpartum Depression itu sebenarnya sederhana. Seorang ibu harus ikhlas menjalani perannya. Mungkin mereka benar. Dari cerita ibu tentang penyesalan-penyesalannya, mungkin ibuku belum sepenuhnya ikhlas menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga. Tapi mungkin mereka tidak menyadari bahwa menyuruh orang untuk ikhlas lebih mudah daripada menjalaninya sendiri. Ikhlas itu gampang diucapkan, namun susah pada prakteknya. Terlebih jika kita tidak mendapatkan lingkungan yang benar-benar mau mendukung kita secara positif. Kadang sindiran dan kesinisan itu datang dari sesama ibu sehingga menambah beban yang sudah ada.

Sampai saat ini pun aku masih menemukan perang secara terbuka di sosial media yang mengelompokkan seorang ibu ke dalam dua golongan. Stereotipe ibu rumah tangga digambarkan sebagai ibu yang lusuh dan tidak harus berpendidikan tinggi, tetapi anak-anaknya sehat jasmani dan rohani. Kebalikannya, stereotipe ibu bekerja digambarkan sebagai wanita ambisius yang tidak punya waktu untuk anak-anaknya sehingga perkembangan jiwa dan fisiknya tidak sehat sebagaimana mestinya. Stereotipe-stereotipe inilah yang akhirnya menimbulkan banyak tekanan sosial pada wanita dan harus memilih: karir atau keluarga.

Tapi pengalaman ibuku menjadi ibu rumah tangga mengatakan hal yang berbeda. Mungkin aku dan kelima saudaraku tumbuh sehat jasmani, namun secara psikis ada bagian yang terkikis dari jiwa kami. Trauma itu setidaknya melekat dalam diriku yang takut akan konsekuensi menjadi ibu rumah tangga.

Bagiku, ibuku adalah seorang perempuan sederhana. Seperti kebanyakan perempuan yang lahir dan tumbuh besar di desa, beliau tidak mengenal barang-barang bermerek dan tidak mengetahui bagaimana caranya memoles wajah dan merawat tubuh untuk menjaga penampilan. Yang ibu tahu adalah seorang perempuan ketika menikah harus tunduk patuh pada perintah suami walaupun tidak sesuai dengan hati dan melakukan perannya seperti stereotipe ibu rumah tangga kebanyakan.

Aku belum tahu saat ibu melahirkan anak keenamnya, beliau sedang berada di titik puncak krisis identitas. Kepercayaan diri beliau mungkin sudah berada di titik terendah. Yang aku tahu, sejak melahirkan adik kami yang terkecil, ibu berubah drastis. Ibu tidak seperti ibu yang dulu. Kami seperti kehilangan sosok ibu sejak itu. Itu terjadi 17 tahun lalu dan aku baru menyadarinya ketika aku sudah menjadi seorang ibu sekarang.

Sebenarnya, sejak kepindahan kami di Jakarta, ibu mulai berubah menjadi sosok pemarah. Ibu cepat sekali tersulut emosi ketika aku dan kakak nomor dua bertengkar mengenai satu hal. Namun, mungkin klimaks dari semua itu adalah ketika ibu sedang hamil anak keenam (yang terakhir). Meskipun memang, keuangan keluarga kami bisa dibilang semakin membaik saat itu. Dengan rejeki yang saat itu cukup berlimpah, ayahku bisa membeli dua rumah sekaligus di lokasi yang cukup strategis, setelah kami mengontrak selama 5 tahun sejak kedatangan kami di Jakarta tahun 1998. Namun, mungkin keuangan yang membaik harus dibayar dengan kesibukan ayah yang semakin padat.

Saat itu, mungkin saja ibu tidak bahagia menjalani perannya karena beban rumah tangga yang semakin bertambah, belum ditambah harus mengurus keenam anaknya. Selain itu, keluarga kami terbiasa menerima sanak saudara untuk tinggal bersama. Ini seperti banyak keluarga di dalam satu atap rumah.  Seringkali, banyak juga intervensi orang luar tentang bagaimana cara ibuku harus mengurus rumah tangganya. Keluarga kami pun sempat didera isu adanya pihak ketiga yang hampir menggoncang hubungan Ibu dan Ayah.

Jika aku tilik sekarang, mungkin saat hamil yang keenam tersebut, ibu sedang menanggung beban hidup dan tekanan psikis yang sangat berat. Pada saat itu, ibu seperti kehilangan semangat hidup. Beliau seperti orang pesakitan selama 9 bulan kehamilannya. Ibuku hanya bisa berbaring di tempat tidur, hingga pamanku yang seorang dokter harus banyak memberi beliau berbagai vitamin agar kandungannya tetap sehat.

Pasca melahirkan itulah ibu seperti tidak mau mengurus bayinya. Aku dan dua kakakku yang secara bergantian harus mengasuh adik kami. Ketika itu aku masih kelas 6 SD, namun aku sudah belajar bagaimana cara mengganti popok bayi, menina-bobokan, dll. Saat itulah aku tahu bahwa ibu berubah, namun aku tidak tahu bahwa ibu sedang berada di titik akumulasi Postpartum Depression yang beliau harus hadapi keenam kalinya.

Aku masih bisa bersyukur bahwa aku dan dua orang kakakku sempat merasakan indahnya kasih sayang ibu. Beliau tidak pernah memaksa kami untuk melakukan ini itu. Aku masih ingat ketika aku berpura-pura sakit agar tidak ikut sebuah perlombaan dan ibu membiarkan aku memilih. Aku pun masih ingat ketika aku diajak berbelanja ke pasar dan diajari memasak pertama kali tentang bagaimana caranya menggoreng ayam. Aku masih ingat setiap malam, Pe-eR sekolah kami bertiga diperiksa dengan teliti dan masih banyak kenangan indah lainnya yang sangat aku rindukan. Hal-hal tersebut mungkin tidak sempat dirasakan oleh tiga adikku yang lain, terutama si bungsu. Sejak ibu berubah, kami semua dituntut untuk bisa mengurus rumah dan berbagi peran. Hal ini yang akhirnya memaksa kami harus mandiri.

Saat itu aku belum tahu apa itu Postpartum Depression yang membuat seorang ibu bernama Andrea akhirnya tega membunuh lima anaknya. Aku baru membaca kisahnya beberapa bulan yang lalu dari blog seorang psikolog (Yudisia, 2011). Cerita Andrea ini benar-benar membuat orang-orang di seluruh dunia tersentak tentang bagaimana seorang ibu tega melakukan hal keji tersebut. Di Indonesia pun banyak Andrea-Andrea lain. Beberapa terungkap karena melakukan kegilaan yang sama membunuh anaknya. Mungkin masih segar di ingatan kita seorang Ibu asal Bandung tahun 2006 yang membunuh 3 orang anaknya (Suara Merdeka, 2015). Baru-baru ini, di awal Oktober tahun 2016, seorang Ibu tega memutilasi anaknya (Tempo, 2016). Kita hanya bisa diam terpana, bahkan menganggapnya sebagai wanita kejam dan gila. Tapi kita lupa bahwa ada akumulasi beban yang dipendam mereka seorang diri yang akhirnya meledak dengan cara seperti itu.

Kini, aku merasa sangat bersyukur ibuku tidak sampai menjadi seperti Andrea. Jika tidak, mana mungkin aku bisa menuliskan cerita ini. Lalu bagaimana ibuku berjuang melawan Postpartum Depression yang dialaminya? Allah mengobati luka yang dipendam ibuku bertahun-tahun dengan cara lain. Ibuku mengalami dementia dini (Alzheimer) ketika menginjak usia kepala empat ditambah gangguan psikosomatis yang mana beliau selalu merasa tubuhnya sakit padahal tidak sakit secara medis.

Pertanyaannya, apakah Postpartum Depression yang membuat ibuku terkena Alzheimer? Jawabannya tidak hanya itu. Jika aku runut masalahnya, ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, tapi Postpartum Depression yang memperparah kondisi ibu. Yang jelas, stress dan depresi berkepanjangan bisa membuat sel-sel otak kita menjadi tidak berfungsi dan mati. Ibuku terlalu lama menyimpan beban-beban hidupnya sendiri yang pada akhirnya menggerogoti jiwa dan raganya. Seperti terkena korslet, terlalu banyak arus yang lewat membuat loncatan listrik yang dasyat dan menimbulkan percikan api sehingga kabel itupun rusak. Selain itu, ketika hamil anak yang terakhir, asupan gizi ibu tidak terjaga dengan baik. Janin mungkin lahir sehat, namun janin di dalam tubuh layaknya parasit mungkin habis menghisap nutrisi di dalam otak ibuku sehingga mempercepat kematian sel-sel otaknya.

Aku sempat bertanya-tanya dalam hati ketika aku menginjak usia remaja—ketika aku sedang membutuhkan sosok seorang ibu sebagai panutan, mengapa ibuku seperti itu, tidak seperti yang aku harapkan. Aku sempat merasa malu terhadap teman-temanku karena ibuku tidak seperti ibu mereka. Bahkan kedekatanku dengan ibu hampir hilang sejak aku masuk sekolah asrama ketika SMA dan sejak itu aku hanya fokus untuk memikirkan diriku sendiri.

Istilah Alzheimer juga baru aku ketahui ketika aku sudah kuliah S1 dan sempat membaca artikel tentang tanda-tanda Alzheimer. Aku memang suka membaca artikel tentang psikologi dan sejenisnya karena aku pernah membuat artikel ilmiah tentang Down Syndrom ketika SMA. Namun saat itu belum ada keluargaku yang percaya. Mereka pikir ibuku hanya kurang ibadah. Ibu akan sembuh ketika ibu mau mendekatkan diri kembali kepada Allah. Mungkin mereka benar. Tetapi mereka salah total karena mereka mengganggap Alzheimer itu semacam penyakit gila, padahal tidak sama sekali.

Adanya gangguan pada fungsi otak, otomatis akan sangat mempengaruhi kejiwaan seseorang. Namun, kita tidak bisa menyamaratakan gangguan kejiwaan sebagai penyakit gila.

Alzheimer sampai saat ini memang belum ada obatnya. Penurunan fungsi otak itu akan terus terjadi sedikit-demi sedikit. Namun, ketika aku pulang ke Indonesia selepas studiku di Jerman selama dua tahun, aku bisa melihat wajah ibuku lebih bahagia dibandingkan dulu. Walaupun beliau tidak akan bisa mengingat lagi percakapannya dengan orang lain 5 menit yang lalu, aku tahu beliau tidak lagi menyimpan beban-bebannya yang dulu. Mungkin ini cara Allah mengobati luka-lukanya. Selain itu, mungkin juga Allah memberiku masalah-masalah yang datang bertubi-tubi menimpaku ketika hamil anak pertama agar aku bisa belajar memahami ibuku lebih baik.

Walaupun nasi sudah menjadi bubur, bubur itu masih bisa dinikmati. Aku sempat menyesal dulu sempat mempertanyakan mengapa ibuku tidak seperti ibu-ibu yang lain. Namun, aku akhirnya sadar bahwa ibuku pun adalah seorang pejuang seperti ibu-ibu yang lain. Ibuku memilih caranya sendiri bertahan untuk melindungi anak-anaknya tanpa harus mengirimkan mereka ke surga seperti Andrea-Andrea yang lain. Dulu, ibuku sempat dalam marahnya mengucapkan, “lebih baik ibu mati saja daripada melihat kalian terus bertengkar”. Aku menduga ibuku mungkin pernah menyimpan banyak luka dan beban hidup sendirian karena dulu aku sering melihatnya mengunci diri di kamar. Ibuku mungkin saja meminta pada Tuhan untuk bisa melupakan beban yang dideritanya dan Tuhan pun akhirnya mengabulkan doanya.

Aku sayang ibuku. Aku tidak ingin menyalahi siapapun. Yang berlalu biarlah berlalu. Namun, pelajaran penting dari kisah ini adalah ketika kita menemukan seorang ibu yang mengalami Postpartum Depression, bisa jadi dia akan meledak seperti Andrea. Segeralah beri dia pertolongan. Sebelum semuanya terlambat dan kita hanya bisa ternganga menontonnya. Jangan sampai ketika itu terjadi, kita hanya bisa mencap buruk mereka. Tetapi kita tidak sadar bahwa bisa jadi kita pun ikut andil dalam melakukan kejahatan membunuh karakter seorang ibu.

vjutahk_0uq-roman-kraft

Kisah ini aku persembahkan untuk semua Ibu dimanapun berada. Setiap ibu memiliki perjuangannya masing-masing baik di dalam maupun di luar rumah. Mari kita bersama menghentikan perang dan kompetisi sesama ibu. Mengapa kita tidak bersatu untuk mengubah stereotipe yang menjadi momok dan mendiskreditkan kita sebagai wanita?

Cerita ini juga aku tujukan untuk para ayah di luar sana. Kenali istrimu, kenali perasaannya. Ingat kembali tujuan sebuah pernikahan untuk apa. Apakah hanya untuk memproduksi anak sehingga bisa melanjutkan keturunan? Atau ingin membentuk sebuah peradaban yang lebih baik dari generasi ke generasi?

ttd1

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Nuzulya Safitri Ilahude says:

    Ira, sungguh tulisan yang membuka mata.. 😢 semoga Allah selalu beri kekuatan untuk setiap kaum Ibu dengan setiap masalahnya.. aamiin.

    1. Ruma[h]Rara says:

      Iya njul…aku ngeliat kasus2 ibu depresi itu gak pernah dicari akar permasalahannya. Personality org kan beda2, ada yg tipe sensitif ada yang enggak. Seringkali sesama wanita/ibu berantem sendiri, hoho. Mereka liat org yg tipe depresif sbg org yg lebay, pdhl kalo kita di posisi mereka bisa jadi kita lebih parah.
      Semoga kita dikuatkan menjadi ibu2 untuk anak2 kita, aamiin … 😀

  2. rtmaryama says:

    Kak Ira… suka sama tulisannya.
    Mamahku juga Ibu rumah tangga dan baru bisa menyelesaikan studi S1 Teknik Industri ketika aku udah SD kl g salah kelas 4 SD.

    Mungkin ada sedikit kesamaan, Mamah juga pernah jadi Mamah tempramen gampang marah dan suka menyalahkan Bapak karena Mamah yang ga boleh kerja. Memang beberapa kejadian meninggalkan cerita yang tidak mengenakkan tapi setelah mamah berpulang pada usia yang masih muda, dan sekarang aku punya anak, yang aku cita cita kan adalah ” ingin seperti Mamah ” karena Mamah selalu punya waktu bersama dengan aku dan adik adik, kami tidak merasa kekurangan waktu bersama Mamah.

    Seandainya aku punya usia yang g lama, simpelnya aku ingin anak anak punya banyak kenangan indah bersama mamahnya.

    Jadi baper kangen Mamah, yang tiap malam betisnya dipeluk dulu sebelum bilang ” Mamah, teteh tidur dulu” trus pergi ke kamar.

    Semoga Allah memuliakan orangtua kita. Aamiii

    1. Ruma[h]Rara says:

      Rahma…pelukan yuk! 😀
      Kalo udah punya anak, suka flashback didikan ortu pas kecil. Suka evaluasi juga, apa yg g disuka dari didikan ortu, gak mw diulang ke anak. Tapi ya, kalo lagi kecapean ira juga suka meledak2 ke suami dan anak. Jadinya suka nyesel abis itu…

      Banyak juga didikan2 positif yg ira rasa bermanfaat bgd sampai skrg, kyk kemandirian, ilmu agama, dll.

      Ira posting tulisan ini juga sebenarnya agar orang2 lain melihat bahwa menjadi perempuan dan ibu apalagi yang jadi ibu rumah tangga itu perjuangan dasyat karena mrk sendiri melawan ego mrk demi keluarga.

      Iya, semoga Allah memuliakan orangtua2 kita ya maa…aamiin ya rabbal’alamin…

      Makasi juga udah sharing pengalaman rahma 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s