Ketika saya ikutan tantrum…

“Some people are nobody’s enemy but their own”

– Oliver Twist by Charles Dicken

Saya pikir, quotes ini cocok untuk menggambarkan diri saya saat ini. Akhir-akhir ini, saya sedang bertarung dengan diri saya sendiri. Sisi gelap dari diri saya yang telah lama saya coba untuk sembuhkan, muncul kembali ke permukaan.

Sisi gelap tersebut setidaknya berimbas pada anak saya. Ketidakmampuan diri saya untuk mengontrol emosi, akhir-akhir ini, seringkali berujung pada tindakan saya yang balik memarahi Alta setelah dia melakukan tantrum berulang-ulang. Sampai saat ini, saya pikir, saya sebagai orang dewasa pun masih sering tantrum.

Tantrum (atau tantrum temper) adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Wikipedia

Tantrum adalah sebuah penggambaran emosi tidak stabil seorang anak kecil. Setiap manusia dilahirkan dengan bekal insting untuk bertahan hidup. Ketika menghadapi kondisi tidak nyaman, insting ini akan memaksa seseorang untuk memilih antara 2 pilihan: bertengkar atau kabur (red: fight or flight).

Tantrum ini akan melekat hingga seseorang itu dewasa jika tidak tertangani dengan baik ketika masih kecil. Ketika seorang anak tidak diajarkan bagaimana mengontrol emosi atau kemampuan mengendalikan diri sejak dini, maka dia akan tumbuh menjadi orang dewasa yang pemarah dan gampang tersulut emosi. Dulu saya sering dilabeli “anak cengeng” karena seringnya saya menangis. Saya akan “marabo” (dalam Bahasa Minang artinya “pemarah”) ketika keinginan saya tidak terpenuhi.

Tantrum setiap anak levelnya beda-beda, ada yang gampang dibujuk atau dialihkan perhatiannya, ada yang mengundang emosi karena sulit untuk ditangani. Level ini tergantung pada kepribadiannya si anak. Anak-anak yang dilahirkan dengan keteguhan pendirian yang tinggi (red: very determined) umumnya memiliki level tantrum yang juga tinggi. Anak-anak tersebut biasanya dicap sebagai “anak keras kepala”.

vance-osterhout-129608

Pelabelan-pelabelan negatif tersebut setidaknya memberikan trauma yang cukup signifikan bagi jiwa saya. Dulu, saya belajar untuk tidak gampang menangis di depan orang-orang. Saya tumbuh menjadi seseorang yang berhati dingin, tidak peka dengan orang lain. Efek lebih buruknya adalah—walaupun tidak saya tunjukkan—saya seringkali merasa rendah diri dan tidak berharga. Saya acapkali tidak bisa menghargai diri saya sendiri.

Terlebih ketika memiliki anak, saya berjanji tidak akan mengulangi pelabelan itu terhadap anak saya. Namun, saya masih harus berjuang untuk melawan tantrum saya sampai sekarang dan itu berat luar biasa.

Ketika emosi atau perasaan negatif tersebut ditekan/dipendam terus menerus, akhirnya bisa meledak sewaktu-waktu. Inilah yang disebut “tantrum” pada orang dewasa.

LDR dengan suami saat ini memperparah keadaan emosi saya. Saya merasa saya sedang berada di titik terendah saya: saya yang tidak sabaran dan gampang terpancing emosi. Dulu ketika emosi saya tersulut karena Alta sedang tantrum, saya akan memberikan kode kepada suami agar dia yang pegang Alta dan saya mengurung diri sementara di kamar untuk meredakan emosi terlebih dahulu. Cara ini cukup efektif bagi saya yang memang gampang tersulut emosi.

Akhir-akhir ini saya seperti orang kewalahan menghadapi Alta. FYI, mereka yang melabeli saya “keras kepala” juga sempat melabeli Alta sebagai anak yang “keras kepala” seperti Ibunya. Tapi, bagi saya, Alta adalah anak yang spesial. Jika sedang bersama orang lain, dia akan terlihat seperti anak yang tegar dan penurut. Namun, jika bersama saya, emosinya seperti dikeluarkan hingga habis. Saya seperti teringat kembali (red: flashback) terhadap apa yang saya lakukan dulu ketika hamil.

Kalau saya kait-kaitkan, mungkin ketika saya hamil, saya sempat mengalami stress berat akibat mengalami kekerasan verbal oleh seseorang secara intens. Saya tidak akan menceritakan lebih lanjut mengenai kekerasan verbal ini karena hanya akan membuka aib orang tersebut. Namun, ini menjadi pelajaran untuk saya bagaimana mengkondisikan kehamilan saya selanjutnya.

Yang pasti, ketika hamil anak kedua nanti, saya akan menjauhi orang-orang yang suka melakukan kekerasan verbal terhadap orang lain. Ini demi kesehatan mental saya dan anak saya nantinya.

Dulu, ketika mengalami penganiayaan verbal tersebut, acapkali saya mengunci diri sehingga saya bisa puas menangis. Sebaliknya, saya berusaha menunjukkan kepada orang-orang bahwa keadaan saya baik-baik aja. Tapi, tidak jarang saya sampai memukul-mukul perut saya untuk melepaskan kekesalan saya. Hal ini jugalah yang menjadi penyesalan terbesar saya sampai sekarang, mengapa saya tidak bisa menciptakan lingkungan yang kondusif ketika hamil Alta dulu. Saya menyesal, mengapa saya menyalurkan energi-energi negatif tersebut kepada Alta ketika dia masih di dalam perut saya. Saya menyesal tidak belajar untuk mengontrol emosi saya waktu itu.

Saya tidak ingin Alta tumbuh menjadi seorang yang tidak percaya diri atau rendah diri seperti yang saya alami. Ketika dewasa, saya berjuang mati-matian untuk mengenyahkan kedua sifat tersebut. Terlalu banyak juga penyesalan-penyesalan pada diri saya sehingga sulit untuk saya memaafkan diri sendiri dan masa lalu saya.

Namun, bagaimanapun juga, saya harus bangkit. Saya harus memutus rantai setan itu. Cukup trauma itu dialami oleh saya. Musuh itu, sekarang, ada dalam diri saya sendiri dan hanya saya yang bisa mengatasinya. Kata orang, yang bisa membuat kita bahagia adalah diri kita sendiri. Jika saya sebagai ibu tidak bisa bahagia, bagaimana saya bisa mendidik Alta untuk bahagia dan menghargai dirinya sendiri?

***

– Saya yang masih belajar untuk mencoba memaafkan diri saya sendiri dan masa lalu saya.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Debrah says:

    Thanks for helping me to see things in a difrfeent light.

  2. If you’ve made it this far, then check out the following article when you have time. It continues to head to greener pastures. Enjoy and God be with you, always: GO DEEP!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s