Memilih untuk (tidak) selingkuh.

Pernah seorang teman melemparkan sebuah pertanyaan,

“jika suami selingkuh terus meminta maaf, bakal kamu maafkan gak?”

Jawaban saya kurang lebih seperti ini, “Aku minta cerai. Bagiku selingkuh (apalagi sampai berhubungan intim) bukan hal yang patut dimaafkan. Dalam ranah Islam pun itu termasuk zina. Ketika orang yang sudah menikah berzina, hukumannya lebih sadis dibandingkan yang belum menikah. Jadi, aku punya hak untuk menuntut cerai. Dari awal menikah pun aku dan suami sudah punya kesepakatan, jika ada yang selingkuh, maka kita cerai.”

Bahkan untuk masalah poligami pun, saya pernah bilang ke suami bahwa selama saya masih hidup, saya tidak mau dipoligami. Memang poligami dibolehkan dalam Islam. Tapi kembali lagi, itu adalah pilihan. Saya sebagai istri memilih tidak mau dipoligami, dan itu saya sampaikan sebelum kami menikah. Jika memang dia sudah tidak lagi mencintai saya sebagai istrinya dan menemukan perempuan lain yang lebih baik, maka saya lebih baik meminta cerai. Kenapa? Karena saya sudah menimbang-nimbang konsekuensi buruk yang mungkin saja terjadi pada diri saya.

That’s beyond my limit. Saya tidak bisa menerima dipoligami apalagi mentolerir sebuah perselingkuhan.

“Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana dengan perempuan yang bergantung secara finansial terhadap suaminya?” lanjut teman saya.

“Aku sih gak bisa membayangkan menjalani hari-hari dengan orang yang aku pernah tahu dia selingkuh dengan orang lain. Fondasi pernikahan dibangun atas asas kepercayaan selain rasa cinta antara keduanya. Masalah anak, aku percaya Allah sudah menetapkan rejeki kita masing-masing selama kita hidup.”

Lagi-lagi saya belajar dari melihat pengalaman buruk orang-orang. Dampak buruknya tidak hanya dirasakan bagi orang yang diselingkuhi, namun juga fatal untuk perkembangan psikis anak-anak mereka. Anak tersebut akan tumbuh dengan dua ekstremitas:

entah dia menerima bahwa perselingkuhan sebagai hal yang lumrah dalam sebuah hubungan,

atau

dia tidak akan percaya dengan yang namanya cinta sejati dan sulit untuk menjalin sebuah hubungan.

***

Gampang memang berteori seperti di atas karena saya belum mengalaminya sendiri, dan mudah-mudahan tidak sampai ada masalah selingkuh dalam rumah tangga saya. Tapi, ada banyak konsekuensi dari omongan saya tersebut.

Terlebih, dulu sempat ada gurauan seseorang dari keluarga saya,

“Hati-hati loh nikah sama yang ganteng. Banyak yang ngincer apalagi kalo nanti udah berduit”

Saya tahu konsekuensinya. Namun, hal ini membuat saya lebih mawas diri sebagai istri. Oleh karena alasan ini jugalah saya membuat kesepakatan di awal menikah mengenai masalah selingkuh dan poligami ini.

Bahkan, pengalaman buruk kehidupan seseorang, membuat saya dulu pernah percaya bahwa pria gampang selingkuh. Seorang pria bisa sangat mencintai wanitanya ketika menikah, namun cinta itu bisa benar-benar hilang seiring berjalannya waktu.

Kini saya tahu bahwa anggapan saya tersebut salah. Wanita pun bisa menjadi pelaku perselingkuhan tersebut.

Di masyarakat, akan selalu ada dua kubu pembela. Dari pihak pria yang melihat, “Ah itu ceweknya aja yang kegatelan.” Sedangkan dari pihak wanita, “Cowoknya juga sih nyadar ganteng.”

Perselingkungan, bagi saya, adalah andil dari dua orang.

Cantik atau enggak, ganteng atau enggak, tidak menjamin seseorang akan selingkuh atau tidak. Selingkuh, bagi saya, hanya dilakukan oleh orang-orang yang pengecut. Mereka yang melakukan perselingkuhan adalah mereka yang hanya mencari kepuasan hasrat yang tidak pernah puas, tapi tidak mau bertanggungjawab atas perbuatan yang mereka lakukan.

Bagi saya, selingkuh itu pilihan. Dalm hidup pun kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Pilihan untuk menjadi seorang pengecut (loser) atau seorang yang bertanggungjawab (responsible).

Ketika saya mengambil keputusan untuk tidak mau dipoligami dan tidak ingin diselingkuhi, saya sadar akan tanggungjawab saya untuk belajar menjadi seorang istri yang memang patut dihargai oleh suami (entah dari segi fisik maupun otak). Memang tidak mudah, namun ini memotivasi saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik untuk orang yang saya cintai. Ketika sudah berumahtangga, cinta itu harus diperjuangkan.

Kata seorang teman saya yang bercerai karena suaminya selingkuh,

“dalam pernikahan, kita pun harus belajar untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.”

Dia benar, kita harus mempersiapkan kemungkinan pasangan kita selingkuh.

But, I’ll give my husband the benefit of doubt. A marriage is worth for those who commit to it and it’s indeed not an easy pathway.

Sebagai seseorang yang percaya pada Tuhan, saya harus bisa berusaha semaksimal potensi yang saya miliki, dengan menyadari segala kekurangan saya sebagai manusia. Jika pada akhirnya, ada hal-hal yang tidak saya ingini terjadi dalam pernikahan saya, mungkin itu saatnya saya perlu belajar untuk bersabar, berserah diri pada Tuhan.

Ketika (tiba-tiba) suami saya memilih untuk berhenti mencintai saya, mungkin itu saatnya saya harus belajar untuk melepaskannya dari kehidupan saya.

Terlepas dari semua itu, kami berdua mempunyai satu mimpi agar juga bisa membangun keluarga di surga-Nya nanti. Till Jannah ya yah? insha Allah! 🙂

toa-heftiba-84798

ttd1

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Nur Irawan says:

    Setuju sekali…
    Poligami tetap di awali dg selingkuh yang berarti menghianati kepercayaan yang sudah dibangun.
    Kecuali, poligami karena suatu hal, mungkin istri yang meminta perihal istri mandul dan alasan yang masuk akal lainnya…
    Selain alasan itu,selingkuh tetaplah sebuah pilihan yang tidak bertanggung jawab…
    Semoga hatiku tak lepas control dari komitmen yang aku buat sendiri
    Aamiin

    1. Ruma[h]Rara says:

      Terima kasih mas atas komennya…
      Iya, sebagai seorang istri, cerai adalah harga mati yg harus dibayar karena perselingkuhan. Biar jadi contoh bahwa selingkuh itu dampaknya besar loh, merusak tatanan keluarga yg udah dibangun. Gak cuma menyakiti pihak istri/suami yg diselingkuhi tp jg mengganggu jiwa anak2nya. Semoga kita2 bisa komitmen atas apa yg kita ambil 😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s