Mencintai Pasangan Kita (1).

anne-edgar-119371.jpg

Pernah suatu ketika saya mendengarkan percakapan antara guru les lukis saya dan seorang nenek berumur 60an yang juga ikut les lukis di sana. Begini kira-kira curhatan nenek tersebut.

“Saya punya teman, hubungan dia dan suami tidak lagi harmonis. Bahkan suaminya sudah tidak mau sekamar lagi dengan istrinya karena mengganggu privacy-nya.”

Saat itu saya sedang hamil Alta 5 bulan dan pernikahan saya dan suami baru melewati tahun pertama. Sebenarnya saya tidak heran dengan cerita nenek tersebut karena saya melihat sendiri orang-orang terdekat saya jarang (bahkan mungkin tidak pernah lagi) melakukan hal-hal yang romantis dengan pasangannya. Kata orang, semakin lama pernikahan, chemistry antara suami-istri akan hilang begitu saja.

Tidak satu dua yang seperti itu. Saya yakin banyak kejadian dimana dia mempertahankan rumah tangganya hanya demi anak-anaknya, walaupun hubungannya dengan suami/istri sudah tidak lagi harmonis.

Bahkan dulu beberapa teman saya pun bercerita tentang orangtuanya yang menasehatinya perihal berumah tangga. Jika sudah menikah apalagi punya anak, rasa cinta yang awalnya ada akan berubah menjadi rasa tanggungjawab.

Saking seringnya mendengar komentar tentang pernikahan yang seperti itu, akhirnya muncul juga ketakutan dalam diri saya mengenai masa depan rumah tangga saya. Saya tidak ingin seperti mereka. Tapi apakah bisa saya dan suami tetap bisa saling mencintai walaupun rambut kami sudah mulai memutih nanti?

Ketika saya mengingat kembali pernikahan saya yang saat itu baru seumur jagung, saya sempat mengalami masa dimana saya ingin menyerah saja di tengah jalan. Saya merasa saat itu adalah masa-masa terberat dalam pernikahan kami karena kepercayaan saya terhadap suami dan suami terhadap saya diuji dengan banyaknya masalah interfensi dari pihak luar.

Apa yang membuat saya bertahan waktu itu? Suami saya meyakinkan bahwa dia mempercayai saya sebagai istrinya. Kata dia, “Ayo kita berusaha bareng-bareng. Aku butuh kamu untuk berubah” dan saya pun mengiyakan bahwa saya juga membutuhkannya untuk berubah menjadi lebih baik.

 

Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa mempertahankan keharmonisan hubungan antara suami dan istri adalah usaha keras dari kedua belah pihak.

Yang saya liat dari pengalaman orang-orang adalah hanya satu orang yang seakan mengorbankan dirinya untuk mempertahankan rumah tangganya yang sudah di ambang kehancuran. Sedangkan, pihak yang lain tidak tahu (atau seringkali tidak mau tahu) bahwa dia memiliki andil yang cukup besar dalam membuat ketidakharmonisan hubungannya dengan pasangan.

Lebih parahnya, ada banyak pasangan yang saya lihat mereka saling menuntut satu sama lain tanpa mau mengevaluasi diri terlebih dahulu. Mau dibawa kemana hubungan yang seperti ini?

Lima tahun saya berusaha memahami pasangan saya dan saya banyak belajar dari pengalaman buruk orang-orang di sekitar saya. Saya berusaha mencari tahu alasan mengapa hubungan mereka sebagai suami-istri tidak lagi harmonis.

Alasannya satu, tidak ada visi misi jelas dalam hubungan pernikahan mereka. Tujuan mereka menikah rata-rata hanya ingin menyalurkan kebutuhan biologis (red: sex) dan membuat keturunan. Titik.

Banyak dari kita lupa bahwa cinta dan kepercayaan terhadap pasangan merupakan bahan bakar untuk mewujudkan visi misi berumah tangga.

Padahal ibarat sebuah rumah, dalam berumah tangga, kita perlu sebuah tujuan jelas mengapa kita ingin membangun sebuah rumah. Berbagai pertanyaan sederhana perlu dijawab terlebih dahulu agar kita tidak asal membangun rumah. Seperti, mau seperti apa rumahnya? Mau terbuat dari apa dindingnya? Berapa banyak ruang dan jendelanya? Dst.

Kepercayaan (trust) ibarat tiang-tiang fondasi rumahnya, sedangkan cinta (love) ibarat batu bata yang membentuk dindingnya. Tanpa keduanya, rumah yang kita bangun akan mudah dirobohkan oleh faktor eksternal.

Suami-istrilah yang seharusnya menjadi arsitektur rumah mereka sendiri karena mereka berdua yang akan hidup di dalamnya. Orangtua, mertua, kerabat/saudara ataupun teman hanyalah seperti tamu yang datang silih berganti. Beberapa ada yang membantu, tapi ada juga yang merecoki.

Lalu, bagaimana caranya mempertahankan cinta dan kepercayaan tersebut?

Para ahli psikologi berkali-kali menekankan pentingnya komunikasi dalam menjalin sebuah hubungan. Namun, komunikasi (red: talking to each other) saja tidak cukup membuat sebuah hubungan yang harmonis. Harus ada rasa empati (saling memahami kekurangan) dan respek (saling menghargai pendapat) yang wajib disisipkan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Intinya, berbicara dari hati dan mendengarkan dengan hati.

Cinta dan kepercayaan itu bisa terus tumbuh jika kita mau belajar saling memahami (empathy) dan menghargai satu sama lain (respect).

Yang lucunya—tapi ini adalah kenyataan (fakta) yang banyak ditemui di lapangan—adalah anak-anak,  seringkali, menjadi alasan kita untuk tidak peduli lagi dengan kebutuhan pasangan. Padahal itu hanyalah alasan belaka (excuse) karena kita tidak mau berubah menjadi lebih baik untuk pasangan kita. Ini pun yang saya rasakan di tahun-tahun pertama Alta hadir di dalam kehidupan keluarga kami.

Awalnya, rutinitas merawat anak sempat membuat saya lupa terhadap kebutuhan diri saya sendiri dan juga suami saya. Namun, suami saya suka mengajak saya menikmati waktu berdua, walaupun hanya sekedar makan ice cream 15 menit di luar. Kami pun punya rutinitas ngobrol setidaknya 15 menit sebelum tidur untuk bercerita apa saja mengenai hal-hal yang kami alami dan emosi yang kami rasakan hari itu. Dari rutinitas-rutinitas yang kelihatannya sederhana itulah kami bisa belajar cara berpikir kami masing-masing dan sedikit-demi-sedikit memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh pasangan.

Selain itu, saya merasa beruntung pernah mengikuti Talent Mapping Assessment dulu tahun 2013. Ini merupakan tes pemetaan potensi dan bakat yang dimiliki oleh setiap orang. Jika kita percaya bahwa setiap individu itu dilahirkan unik, memang benar adanya. Tes ini memetakan 34 jenis bakat yang dijelaskan secara rinci oleh sebuah tim riset di bawah The Gallup Institute.

Walaupun tes ini baru banyak dipakai dalam lingkup pendidikan dan profesional, saya belajar menerapkan konsep ini dimulai dari rumah tangga saya terlebih dahulu.

Saya percaya bahwa setiap orang dipertemukan oleh Tuhan dengan jodohnya masing-masing. Semakin saya menyadari kekurangan dan kelebihan saya dan suami, semakin saya menyadari bahwa perbedaan-perbedaan potensi dan bakat yang kami miliki, memang bertujuan agar kami belajar untuk saling melengkapi.

Sebagai contoh, saya termasuk yang idealis, sedangkan suami saya lebih perfektionis. Saya lebih teratur dan keras terhadap diri saya, sedangkan suami saya lebih santai dan berantakan. Namun, dalam beberapa hal kami memiliki kesamaan seperti kami tipe orang yang futuristik, pembelajar dan senang melihat orang lain berkembang (developer).

Dari sinilah saya tahu mengapa kami bisa dengan mudah membuat sebuah mimpi bersama, namun dalam prakteknya cara kami mewujudkannya berbeda. Kami pun belajar memahami ekspektasi masing-masing dan mencari jalan yang terbaik untuk bisa saling bersinergi.

Dalam urusan mendidik anak pun, kami sudah tahu bahwa kami memiliki cara terbaik sendiri-sendiri. Dari sini saya belajar untuk menghargai suami saya, walaupun dalam kacamata saya, cara saya terlihat lebih baik.

Yang terpenting kami memiliki satu visi dan misi bersama dalam berumah tangga. Bagaimana caranya kami mewujudkannya, kami tahu kami dua orang berbeda yang disatukan. Cara kerja otak kami pun berbeda. Kami memiliki potensi dan bakat masing-masing sehingga kami harus terus belajar untuk saling men-support satu sama lain. Dari sinilah kami belajar untuk mempertahankan cinta dan kepercayaan kami berdua.

Mencintai banyak orang dalam satu waktu memang mudah. Namun, merawat cinta dan kepercayaan terhadap satu orang membutuhkan usaha yang luar biasa. Hal ini tidaklah mudah karena hanya orang-orang yang mau bekerja keras yang bisa mewujudkannya.

***

Di tulisan selanjutnya, saya akan menjelaskan lebih detail mengenai hasil Talent Mapping kami berdua dan bagaimana saya menginterpretasi hasilnya. Nantikan yaaa! 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Hamba Allah says:

    “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)

    Note: istiqomah dalam ketaatan sampai meninggal => surga Firdaus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s