Kisah Sang Matahari.

Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi bagiku sebuah kebenaran yang dipaksakan hanya akan menjadi keburukan. Biarkan seorang anak manusia memilih apa yang menurutnya paling baik untuk dirinya. Tugas kita sebagai manusia, bukan menjadi seorang pendakwa, tetapi bisa saling berempati dan mendukung satu sama lain. Bukankah itu inti dari ajaran agama? Yaitu perdamaian. Biarkanlah seorang ibu memilih apakah dia ingin menjadi ibu rumah tangga atau ibu yang bekerja. Karena pada akhirnya dia tetaplah seorang ibu bagi anak-anaknya.

Rate this:

Lagi-lagi tentang Cinta.

Kata orang, cinta itu¬†butuh pengorbanan. Tapi bagi saya, kalimat ini bisa¬†menyesatkan. Kenapa? Bisa jadi, karena seseorang mengorbankan segalanya demi cinta, cintanya menjadi tidak lagi tulus. Kasarnya kayak gini, nih gw udah berkorban banyak untuk lw, tapi lw koq gak mau ngebales cinta gw? Sebuah cinta bisa kita tujukan ke siapa aja, entah itu cinta terhadap…

Rate this:

A Life Wheel.

Life is like a wheel, sometimes we are at the top side, but going down at the other times. I do really know these life phases, but when we face a difficult situation, it isn’t so easy to go through it. At the beginning of my arrival in Germany, it was difficult to find an…

Rate this:

Itu tidak adil diperbandingkan.

“Jika dibandingkan dengan teman-teman jerman kalian, kalian tidak bisa saya luluskan pre-tes untuk bisa ikut praktikum…”

Begitulah sekelabat ucapan asisten praktikum menilai kemampuan pemahaman saya dan teman saya. Ada satu mata kuliah yang mewajibkan pre-tes terlebih dahulu sebelum bisa ikut praktikum di lab mereka. Namun, kami gagal.

Memang benar kami tidak mempersiapkan diri dengan matang. Tetapi, yang membuat ucapan sang asisten menjadi sangat menyebalkan adalah perkataannya yang membanding-bandingkan kami dengan mahasiswa Jerman disini. Bagi saya si asisten tidak adil membandingkan kami dengan teman-teman kami. Kenapa? Pertama, karena mata kuliah S2 yang kita ikuti, mereka sudah mendapatkannya ketika mereka S1. Jadi istilahnya, mereka kuliah S2 hanya seperti pengulangan. Tentu saja mereka lebih paham dan lebih mengerti cara kerja instrumentasi yang ada di Lab mereka. Kedua, sebagai mahasiswa dari negara berkembang, saya mana tahu cara kerja alat canggih tersebut secara detail, megang alatnya aja belum pernah, hehe. Jadi ya, gak Apple-to-Apple aja ngebandingin saya dan teman saya dengan teman-teman Jerman disini. Gak adil, bro!

Rate this: